Rabu, 03 November 2010

Pohon Qurban

Muda Wijaya
                         Pohon Qurban
:bagi kekasih bulan

patut patutkan diri melepas apa yang dimiliki
sementara rerimbun pohon pohon memahami
daun daun yang keriput telah melepaskan diri
dan reranting terurai tak henti henti menyerap
segala hawa dan segala apa yang diberi tanah
sebab ujung pohon yang mengakar merambat
dipangkas oleh segala apa yang kau percayai.

dan pohon pohon  yang sudah berdiri bersama
jangan hianati akar akar setia  yang melingkar
larut memainkan irama air  nun di ujung kerak
mengikat diri tetap bertahan  menjunjung raya
yang tiada hentinya  mengabarkan berita duka
sampai  mencapai keserasian  dan kelembutan
bersama  rerumput surut  zikirkan  suara suara.

bila rasakan dirimu pohon  yang telah dimanja
dan  memberi segala mesra sebagai tanda rasa
dan menyambut serta hangatnya cuaca datang
dari jawaban alam yang malam  menyapa tiba
hingga tak lagi  gelisah hati   mencari jawaban
dan   membuat  ribuan cahaya kunang kunang
menyeberang bersandar mencahayakan dahan
daun dan segala ruang  tempat ranting tepekur.

pohon yang tumpah  memandangi mega mega
memilih  melepaskan diri  dari jati kemegahan
menggugah dahan dahannya  yang patah  atau
daun daunnya yang gugur  menguning ditadah
pada tanah  yang menjadikan hawanya humus
dan membawakan buah buahnya  jadi sedekah
sebagai pembersih jiwa  menuju jalan rabbani
yang kelak disadari  serupa tapal batas rahasia
yang tak habis habis rindukan penyerahan diri.

2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar