Muda Wijaya
Pohon Qurban
:bagi kekasih bulan
patut patutkan diri melepas apa yang dimiliki
sementara rerimbun pohon pohon memahami
daun daun yang keriput telah melepaskan diri
dan reranting terurai tak henti henti menyerap
segala hawa dan segala apa yang diberi tanah
sebab ujung pohon yang mengakar merambat
dipangkas oleh segala apa yang kau percayai.
dan pohon pohon yang sudah berdiri bersama
jangan hianati akar akar setia yang melingkar
larut memainkan irama air nun di ujung kerak
mengikat diri tetap bertahan menjunjung raya
yang tiada hentinya mengabarkan berita duka
sampai mencapai keserasian dan kelembutan
bersama rerumput surut zikirkan suara suara.
bila rasakan dirimu pohon yang telah dimanja
dan memberi segala mesra sebagai tanda rasa
dan menyambut serta hangatnya cuaca datang
dari jawaban alam yang malam menyapa tiba
hingga tak lagi gelisah hati mencari jawaban
dan membuat ribuan cahaya kunang kunang
menyeberang bersandar mencahayakan dahan
daun dan segala ruang tempat ranting tepekur.
pohon yang tumpah memandangi mega mega
memilih melepaskan diri dari jati kemegahan
menggugah dahan dahannya yang patah atau
daun daunnya yang gugur menguning ditadah
pada tanah yang menjadikan hawanya humus
dan membawakan buah buahnya jadi sedekah
sebagai pembersih jiwa menuju jalan rabbani
yang kelak disadari serupa tapal batas rahasia
yang tak habis habis rindukan penyerahan diri.
2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar