Muda Wijaya
Jalan Simpang ke Sading
-kpd bpk. inyoman wenten
riuh medan tabuh. dan tarian yang memanjat langit
di jalan simpang sepasang mata tajam sembahyang
menembangkan seloka sedalam doa
begitu kerinduan terekam
menuruni lembah pedusunan
jiwa meliuk seirama tabuh menjulang
ke balik pahatan wajah menyimpan ruh
melewatkan segala bayang
memainkan hasrat khayangan
sepasang pelikan bawakan kenangan layar lontar
dalam gemuruh medan perhitungan
pada riuh kecak mencari wajah sita yang hilang
ketika kalimat kalimat samar asmara
jadi samsara tak mampu digumpalkan
hanya membaca gerak gerak langgam
lambang agni yang serta
dan angin yang tara menggumam
lagu ruh menagkapi percik air
terasa tiis-nya ke bathin menggalirkan gairah
dan suara suara menangkapi hasrat harum dhupa
tak kenal musim menampung segenap senandung
: sumber jiwa
sumber cahaya
segala yang tumbuh dari cinta.
dan cempaka yang bergantung
seperti meniti di rambut hitam panjang
(milik perempuan) para penari itu
tak selesai gelisah ini melamunkan rimbun daun
yang hijau. hanya para kelana mabuk makin jauh
diriuh garis jebakan seperti burung bermimpi
membangun sarang rumah bulan.
menagkapi ladang basah senja
dan jalan panjang manusia
memainkan noktah jejak cinta
bagian mahkota dan melankolia
ada rumput rumput larut turut dan surut bercermin
pada telaga pada gema air yang setia membawa
perjamuan sucinya
sebuah nama dan takdir mana menolak cahaya?
sebab di bilikmulah hening daun menepi
begitu senja tiba bersama bhuta bersengketa
melebihi hening senandung mata air mengingat
jalan pulang.
daun yang menepi menawarkan warna upacara
hanya berbekal cempaka, mawar,
melati rangkaian sesaji
menuju simpang tiga khayangan
tempat para dewa telanjang membangun ektase.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar