Muda Wijaya
Kecapi Cianjur
(Dari Snerayuza Menara Tri Sandhya Kau Menjerit Dalam)
-kpd Bpk. Nani Sumarna
Dan selepas subuh selepas manusia mengirim tubuh
meruntuhkan dingin mimpi batu-batu
sambil memaknai lautan embun dengan dzikir
berkawan sayup suara burung
dari menara tri sandhya
menelusur membuka segala indera matahari
serta menambah busur dari sekawan waktu
yang menjamur.
Dzikir pagi hari kau petik dalamnya kecapi
membenturkan setiap perigi
memasuki lagi wilayah meditasi
membagi prihal hati dari muhibbah batin.
Sembilan puluh sembilan telah tergelar
adalah larik awal snera yuza membawa suara surga
setelah labuhan suara kecapi
menyimpan nama nama malam
nama nama silam.
Dalam petikan madenda menggumami siang
di endah langit berkawan siliran angin bersiul
kau tawarkan kumbang hitam
hingga campaka kembar dengan panambih
menembang sedalam doa bertiup perlahan
kau limbungkan tubuh ninaan ayun ayunan
cahaya pancar menyiasati waktu yang tunggal
dan duapuluh ikatan tali kecapimu
menghayati arus duapuluh sifat tuhan.
Gelisah mana memanah dari menara tua parahyangan
membawa tembang tanah pasundan
menghapus rasa haus berabad
abad yang menggumam.
masa lalu itu seakan menyudahi menengadah langit
di natah dapati snera kecapimu mengeja memunah
di benak jari-jari muda tak lagi mengaji
nafasi tradisi silam:
tak ada warna mesti diterlantarkan, katamu
lagi nafas jari-jari keriput menghapus mendung langit
serupa anak-anak menggumam memahami dzikir cinta
ketika angin meminta bersama mengembang
melayang mengisi segala batin dan terbang
seperti membuatkan monumen cinta
memasuki kawah senja khayangan
monumen parahyangan.
Kau berbagi bhatin suara kecapi
dari snerayuza tri sandhya
baiti jerit dalam cianjuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar