Rabu, 03 November 2010

Kecapi Cianjur (Dari Snerayuza Menara Tri Sandhya Kau Menjerit Dalam)

Muda Wijaya

Kecapi Cianjur

(Dari Snerayuza Menara Tri Sandhya Kau Menjerit Dalam)

      -kpd Bpk. Nani Sumarna


Dan selepas subuh selepas manusia mengirim tubuh
                            meruntuhkan dingin mimpi batu-batu
sambil memaknai lautan embun dengan dzikir
berkawan sayup suara burung
                                                  dari menara tri sandhya
menelusur membuka segala indera matahari
serta menambah busur  dari sekawan waktu
                                                              yang menjamur.
Dzikir pagi hari    kau petik dalamnya kecapi
membenturkan setiap perigi
memasuki lagi wilayah meditasi
                      membagi prihal hati dari muhibbah batin.
Sembilan puluh sembilan telah tergelar
adalah larik awal snera yuza       membawa suara surga
setelah labuhan suara kecapi
menyimpan nama nama malam
                             nama nama silam.
Dalam petikan madenda  menggumami siang
di endah langit berkawan siliran angin bersiul
kau tawarkan kumbang hitam
hingga campaka kembar dengan panambih
menembang sedalam doa bertiup perlahan
kau limbungkan tubuh ninaan ayun ayunan
cahaya pancar menyiasati waktu yang tunggal
dan duapuluh ikatan tali kecapimu
                           menghayati arus duapuluh sifat tuhan.
Gelisah mana memanah dari menara tua parahyangan
membawa tembang tanah pasundan
        menghapus rasa haus berabad
                                                 abad yang menggumam.

Ada suara di balik matamu menangkap      ketika duka
masa lalu itu seakan menyudahi      menengadah langit
di natah dapati snera kecapimu mengeja        memunah
di benak jari-jari muda   tak lagi mengaji
                                                         nafasi tradisi silam:
                tak ada warna mesti diterlantarkan,    katamu
lagi nafas jari-jari keriput menghapus mendung langit
serupa anak-anak menggumam memahami dzikir cinta
ketika angin meminta bersama mengembang
melayang mengisi segala batin    dan terbang
                              seperti membuatkan monumen cinta
                               memasuki kawah  senja khayangan
                                                   monumen parahyangan.
Kau berbagi bhatin suara kecapi
                    dari snerayuza tri sandhya
                                              baiti jerit dalam cianjuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar