Senin, 14 Oktober 2019

Orasi Budaya Umbu Landu Paranggi pada Simposium International Sastra Indonesia

KemBali ke Bali: 
KemBali ke Kedalaman Akar-Dasar Sastra
(Dari Sastra ke Paramasastra)

Sahabat-Sahabat Sastrawan dan Pecinta Sastra yang Berbahagia,
SALAM SASTRA,

SUNGGUH saya merasa girang gembira dan bahagia menyambut pertemuan yang bertemakan Sastra, Lingkungan, dan Kita ini, di sini, saat ini. Meskipun dikemas dalam judul yang sangat umumSeminar Internasional Sastra Indonesianamun saya jauh lebih terpikat pada tematik yang diusung pertemuan ini, yakni Sastra, Lingkungan, dan Kita. Lebih daripada tematiknya, saya merasa girang gembira dan bahagia karena  pertemuan ini diselenggarakan di Bali, dan pas tepat pula dilangsungkan pada bulan Oktober. Kenapa Tempat dan Saat ini Tepatdan karenanya menjadi penting?

PERTAMA, SOAL TEMPAT: DI BALI. Lebih daripada berbagai julukan yang telah diberikan kepada pulau mungil bernama Bali ini, seperti Pulau Seribu Pura, Pulau Dewata, The Last Paradise Island, Morning of the World, Inspiring of  the World—bahkan pascabom 12/10/2002 Bali diobral murah-meriah sebagai Bali for The World”saya kira ada yang diluputkan dan dilupakan dari julukan-julukan Bali itu: bahwa akar dasar alamiah nan asli asali Bali itu sesungguh-sungguhnya adalah Pulau Sastra. Ya, Bali sejati sesejati-sejatinya adalah: Pulau Sastra. 

Jejak panjang kesejarahan tanah-air Bali dari era prasejarah sampai pada era-era sejarah berikutnya menunjukkan dengan jelas aliran air sungai-sungai Kesastraan yang menghampar luas itu: terpola, terstruktur, dan tersistem sedemikian rupa berlapis-lapis meresapi-merasuki berbagai sisi kehidupan manusia Bali. Aliran ini menemukan muara puncak pencapaian penataannya secara terpola, terstruktur, dan tersistem manakala Bali telah sampai di titik era komunal-agraris yang menetap, dengan simpul-simpul kristalisasi kesadaran visioner ekologi-sosio-kultural-spiritualitas dalam kelembagaan permanen berupa Subak, Desa Adat, dan Bandega. Ilmu Salak-Subak, adab-Adat, dan hela-dayung-Bandega Bali pada hakikatnya merupakan persemaian benih-benih Sastra yang ditumbuhsuburkan dalam laku hidup nyata sehari-hari dalam bentang keruangan alam yang utuh-menyeluruh, dari hulu, tengah, sampai hilir: Ilmu Salak-Subak di hulu, adab-Desa Adat di tengah, dan hela-dayung-Bandega di hilir”. Karena itu menjadilah Bali dengan visi kealaman yang komprehensif-holistik utuh-menyeluruh hulu-hilir sebagai Sastra Sagara-Gunung, atau Sagara-Ukir, atau Pasir-Ukir. Inilah Teks, Konteks, dan Konten  Sastra dalam visi Bali yang tersurat dan tersirat utuh-penuh di seluruh tubuh tanah-air-udara Bali sebagai Pulau Sastra, Pulau yang sekujur tubuh tanah-air-udaranya digurati Sastra dalam arti yang seluas-luasnya, sedalam-dalamnya. 

BERKESASTRAAN dalam visi Bali, tentulah bukan semataapalagi samadengan  pengertian sastra sebagaimana lazim diajarkan di lembaga pendidikan formal, yang sebatas mencakup fiksiber-genre puisi, prosa, dan drama. Sastra dalam samudra peradaban Bali mencakup pengertian makna yang sangat luas, mulai dari karya susastra, kitab suci, ilmu pengetahuan, alat untuk mengajar, buku atau kitab. Bahkan juga berarti senjata.  Dalam maknawi lebih substansial, di Bali sastra sejati  justru merujuk Kesadaran Jiwa Tak Terbatas, sebagaimana dapat disusuri dari konsep sastra tan patulis (sastra yang tak tertulis). Dengan begitu Aksara-Bahasa-Sastra sebagai Akar-Dasar sekaligus Puncak Mahkota Peradaban mencakup pengertian yang berlapis-lapis dari sastra berbentuk karya tulisan, meta-sastra, hingga suprasastra yang dinamakan Paramasastra atau Mahasastra hingga Adisastra. Linguistik pun tidak sebatas bahasa verbal, tapi juga meta-linguistik, hingga supralingiustik sebagai Mahasabda  atau Mahaswara, Getaran Murni Tiada Terputus. Teks pun mencakup yang terbatas sampai suprateks Yang Tak Terbatas di dalam-Diri maupun di luar-Diri.

Dengan cakupan makna kesastraan yang sedemikian luas dan mendalam, maka Bali sebagai Pulau Sastra, Pulau Berkesastraan, yang dimaksudkan di sini tentu adalah teks, konteks, dan konten ruang kehidupan di tanah-air-udara Bali yang divisikan para tetua dalam bahasa tradisi Bali sebagai bhawa maurip,  Semesta Kehidupan yang Hidup. Sebagai bhawa maurip, maka tanah-air-udara Bali pun diperlakukan dengan kesadaran berkesastraan, sebagaimana layaknya memperlakukan manusia hidup berkemuliaan. 

Perlakuan Berkesadaran Berkesastraan terhadap tanah-air-udara Bali sebagai bhawa maurip  ini diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari secara terpola, terstruktur, dan tersistem berlapis-lapis dalam berbagai aspek kehidupan. Dari Kesadaran Berkesastraan inilah lantas lahir sikap hidup dalam kehidupan yang berkesatuan  sekaligus berkesantunan  terhadap semesta raya kehidupan dengan segenap isinya, sehingga lahirlah spirit hidup dalam kehidupan bersama yang urip-nguripi, saling memuliakan, saling menghidupi. Kesatuan dan kesantunan urip-nguripi terhadap semesta raya kehidupan inilah inti sistem eko-sosio-kultural-spiritual cara Bali. Inilah Adab Sastra, Kesastraan, dan Berkesastraan Cara Bali yang sesungguh-sungguhnya: dari Sastra terus menembus meretas sampai ke Paramasastra atau Mahasastra sebagai sang Adisastra.

Pemahaman mendalam terhadap Bali sebagai Pulau Sastra yang sudah sampai pada taraf Keadaban Hidup itulah menyebabkan Proklamator sekaligus Presiden I Republik Indonesia, Ir. Soekarno, lantas  mendirikan Fakultas Sastra Udayana sebagai Perguruan Tinggi Negeri pertama di Bali.  Saat upacara pembukaan perguruan tinggi pertama di tanah Bali itu, hari Jumat (Sukra) Umanis wuku Langkir (cermati pilihan hari baik ini!), 29 September 1958, Menteri PP dan K Republik Indonesia, Prof Prijono, begitu spontan menyebutkan agar Fakultas Sastra Udayana nantinya benar-benar bisa menjadi bahni ring pahoman, dumilah mangde suka nikang rat: menjadi layaknya api di tungku pedupaan sang pendeta, menyala-nyala terang cemerlang gemilang mencerahkan dan membahagiakan masyarakat di jagat raya (rat), sesuai dengan yang disurat oleh kawi-wiku Mpu Yogiswara dalam sargah I bait ke-10 kakawin Ramayanayang sampai sekarang diyakini sebagai karya sastra kakawin tertua karya asli Nusantara.
Di tengah pusaran keruangan-kewaktuan Indonesia yang baru merdeka 13 tahun saat itu, di mana upaya pembentukan pembangunan watak kebangsaan (character building & nations state) begitu dirasakan sentral sebagai upaya hulu pembangkitan mutu manusia Indonesia, cita-cita yang dilekatkan pada Fakultas Sastra Udayana untuk dumilah mangde sukanikang rat saat itu tentu sangat penting dan strategis. Makna penting serta strategis demikian diberikan terkait dengan posisi Bali yang dibahasakan oleh Presiden Soekarno saat itu sebagai peti wasiat penyimpan teks-teks kearifan peradaban batin Nusantara.  Spirit payung ke-Indonesia-an yang diformulasikan dalam triangle segi-tiga-emas Pancasila(Bhinneka Tunggal Ika(Burung Garuda, misalnya, sumber-sumber tekstual dan kontekstualnya begitu berlimpah otentik tersimpan dalam Peti Wasiat Perpustakaan-Kepustakaan bernama Bali ini. 
Dalam kemaknaan itulah Presiden Soekarno lantas menyebut dan berharap Fakultas Sastra Udayana ini nantinya bisa menjadi pewahyu bagi rakyat dengan menggali kecintaan kepada Tanah Air untuk hari kemudian, dan sekaligus menjadi pewahyu pula bagi rakyat yang sedang berjuang membebaskan bangsa dari semua kemiskinan. Perhatikan, begitu terang benderang Bung Karno yang berdarah ibu Buleleng-Bali itu menyebut pewahyu bagi rakyat dengan menggali kecintaan kepada Tanah Air, dan membebaskan bangsa dari segala kemiskinan.  

KEDUA, PERIHAL SAAT: ini juga Tepat dan menjadi penting. Dalam sistem kewaktuan Bali, bulan Oktober ini pas tepat bersamaan dengan Sasih Kapat (bulan Keempat). Tradisi kesastraan Bali menyebut Sasih Kapat ini dengan istilah Kartika Masa. Saat ini bunga-bunga sedang girang gembira bermekaran.  Inilah masa musim semi a la Khatulistiwa-Bali: meskipun tanpa guyuran salju, namun Alam Semesta Raya tetap saja elok, memesona, ketika gugusan Bintang Utara (tradisi Bali menamakan Bintang Kartika) berada dalam posisinya yang terdekat dengan Bumi. Momentum kewaktuan sekaligus keruangan dan kealaman ini niscaya membuat hati mereka yang berkepekaan nan halus menjadi bergetar bingar. 
Bunga memang menjadi penanda penting sasih Kapat. Bunga pula mendapat perenungan makna begitu istimewa dalam kaitan spiritualitas dan kultural Bali. Orang Bali Hindu seperti tak bisa terpisahkan dengan bunga. Dengan bungalah orang Bali memuja.  Bunga pula menjadi unsur persembahan paling mendasar dan paling sederhana bagi orang Bali, di samping buah, air, dan api. Itu sebab kosa kata bunga dalam bahasa Bali memiliki sejumlah padanan dengan derajat makna yang berjenjang, mulai dari bunga, sekar, hingga puspa dan wangi sebagai ungkapan terhalus, terhormat. Bunga, memang, menjadi bahasa universal. Dan, orang Bali tak cuma berhenti pada katakan dengan bunga, melainkan lebih daripada itu: Pujalah dengan bunga! 
Bagi penekun yoga, bunga persembahannya tak sekadar bunga yang tampak mata, tapi lebih dalam daripada itu adalah bunga hatinya yang tak kunjung layu. Itu dinamakan puspa tan alum, denyut jantung tak kunjung henti, yang terletak di padma lubuk hati terdalamdinamakan padma hredaya. Di sanalah para kawi-yogi menstanakan Sang Maha Pencipta sebagai sang Mahakawi. Tak pelak lagi, ketika orang Bali Hindu mabakti (sembahyang) dengan sarana bunga, itu menjadi simbolik persembahan kesucian dan ketulusan hatinya yang harum semerbak, halus. Bunga menjadikan bungah (asri) dan bingar (ceria). Kapat pas tepat Oktober ini, saat kita bertemu di Bali ini, merupakan momentum pas tepat bagi kontemplasi mendalam untuk pemekaran Kesadaran Jiwa Kesastraan yang puitis dan estetis.
Dalam laku sehari-hari manusia dituntut dan dituntun agar menyemaikan ketulusan dan keharuman laku nyataberupa: Senyum manis, tutur kata halus, serta raut muka ramah penuh kasih itulah yang patut dijadikan sarana pemujaan utama kehadapan sang Maha Hidup, begitu Mpu Tanakung menyuratkan dalam kakawin gubahannya yang terkenal, Siwaratrikalpadi Bali lebih dikenal dengan sebutan kakawin Lubdaka. 
Sahabat-Sahabat Sastrawan dan Pecinta Sastra yang Berbahagia,

Dengan momentum keruangan dan kewaktuan yang tepat seperti itu, saya berharap semoga pertemuan Sastra, Lingkungan, dan Kita di Bali ini dapat lebih menginspirasi kalangan yang lebih luas lagi untuk mengisi lembar-lembar kehidupan dengan Kesadaran Sastra.  Sangat elok bila pertemuan Sastra, Lingkungan, dan Kita seperti ini bisa terus digelar bergilir saban Kapat-Oktober di titik-titik simpul Kehidupan Sastra di seantero tanah-air Nusantara Raya ini. Sudah jamnya kini Nusantara Raya menginspirasi kemekaran Kehidupan Sastra!

Dalam konteks faktual dan aktual kehidupan kolektif di banyak belahan dunia yang semakin terbetot oleh pola-struktur dan sistem ego-individual-material, adalah kecenderungan kuat kehidupan kolektif masyarakat Dunia akan semakin terdampar ke pendangkalan, bahkan ke pengapungan, hingga melenting jauh ke titik tanpa akar. Kontemplasi dan kedalaman kian dijauhi, diganti dengan riak-riak permukaan yang serba sesaat, riuh gaduh, dan serba seolah-olah. Yang sudah jelas-jelas ada dekat justru dijauhi, dibaikan; sebaliknya yang seolah-olah dekat malah diakrab-akrabi. Mudah ditebak bila sistem yang serba berbalik-balik nyungsang dengan sistem eko-sosio-kultural-spiritual ini lantas menjadikan kehidupan bersama terasa kian kering, sumpek, menekan, membebani, menyusul kian diluputkan dan dilupakannya Kesadaran Kesastraan yang Bersastra.

Bali itu wali. Wali itu berarti kemBali. Setiap Pejalan yang berkesadaran diri paham benar, Kembali itu adalah mengayunkan langkah demi langkah berbalik menuju arah awal. Bagi para penggurat garis, kembali tiada lain daripada menarik goresan ke arah titik awal mula guratan. Itulah Kembali Sejati: menyusuri menapaki titik awal kemenjadian. Kembali ke Asal-Awal-Mula.
Bali juga berarti bala, kekuatan atau daya Hidup yang utuh-menyeluruh. Daya Hidup utuh-menyeluruh itulah yang menjadikan kehidupan hidup. Tanpa Daya Hidup utuh-menyeluruh, kehidupan menjadi tiada berdaya. Tanpa Daya Hidup, maka kehidupan pun berhenti hidup. Daya hidup utuh-menyeluruh itulah yang menjadikan Bali berlimpah harmoni Puitis-Etis-Estetis, setelah tanah-air-udaranya dirawat dengan penuh cinta dan kesantunan. Kerinduan jiwa terdalam insan-insan manusia untuk mendapatkan dan mereguk Daya Hidup Utuh itulah yang menggerakkan jiwa-jiwa itu datang, datang, dan datang lagi berulang-ulang ke Bali, bahkan akhirnya menetap di Bali. Lebih daripada sekadar menyambung hidup, mencari penghidupan, Bali bagi penyelam-penyelam Kehidupan seakan saklar untuk memasuki lapisan tersakral keberadaan manusia yang berinti-hakikatkan jiwa, spirit. Bukan benda-benda ragawi semata. Bali di titik ini menjadi medan pengisian ulang daya hidup battery jiwa yang telah lemah, layaknya colokan recharger bagi battery telepon seluler yang telah kehabisan daya hidup. Dengan mencolokkan ke saklar daya hidupnya yang paling sakral, maka battery kehidupan yang telah lemah itu pun menjadi ber-Daya Hidup Utuh kembali.

Bali, karena itu, lewat pertemuan Sastra, Lingkungan, dan Kita mengajak kita untuk kemBali, kemBali, dan kemBali kepada Kedalaman Akar-Dasar Sastra sebagai Kesadaran Hidup dan Berkehidupan. Bersastra sebagai penghayatan dan pengamalan Hidup Bersama dalam kebersamaan atas kedalaman Kesadaran Kehidupan, dalam arti perilaku Hidup dalam Kehidupan yang lebih memuliakan Hidup sehingga Hidup Menjadi Lebih Hidup.

Ketika kehidupan bersama dalam ruang-ruang politik, sosial, ekonomi sudah semakin keruh, bahkan ceramah-ceramah agama sekalipun sudah sedemikian mengkotak-kotakkan dengan sekat-sekat identitas primodial, bahkan menabursuburkan  benih-benih intoleran atas keberagaman kehidupan bersama,  memicu dan memacu pemikiran-perkataan-perbuatan keras, melukai perasaan kemanusiaan, serta intoleran dan radikal, maka sudah jamnya-lah saya kira Sastra wajib Hadir dan/atau di-Hadir-kan kembali untuk membasuh, melebur, sekaligus meretas kekotoran dan kekerasan pikiran yang menyekat-sekat mengkotak-kotakkan itu supaya kemBali ke hakikat ke-Menjadi-an kita sebagai makhluk Spiritual yang amat lentur dalam mendapatkan pengalaman Kemanusiaan. Bukan justru sebaliknya: menjadi manusia yang memburu dan membangga-banggakan pengalaman spiritualtanpa pernah sungguh-sungguh melakonkan hidup yang berspiritualitas. Alih-alih, justru terperosok sebagai penjaja agamatanpa kepekaan cita-rasa Kesastraan yang puitis, estetis, dan memuliakan kehidupan bersama. 

Begitu benderang telah diingatkan oleh para tetua Bali di masa lampau, bahwa dalam setiap titik peralihan, dari zaman ke zaman, Sastra (sekali lagi: dalam arti lebih sublim dan luas!) agar dijadikan sebagai Pedoman Dasar, sebagai Tongkat Petunjuk Jalan. Dan, di situ dia yang memegang Sastra sebagai Tongkat Petunjuk Jalan sudah semestinya independen merdeka kukuh, layaknya sang kawi-wiku yang berkewajiban mengingatkan menerangi setiap pejalan kehidupan, tak terkecuali sang ratu atau raja, yang menyimpang dari tugas pokok dan kewajibannya sebagai pemimpin yang mengemban amanat dan mandat rakyat. 

Dalam bahasa Mpu Kanwa lewat kakawin Arjuna-wiwaha gubahannya, dia yang telah mahir Sastra adalah dia yang huwus limpad sakeng sunyatadia yang telah katam me-Nir-kan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompoknya. Yang senantiasa diupayakan dalam hidupnya hanyalah sukaning rat, kebahagiaan segenap isi Alam Semesta Raya. Berkesastraan, karena itu, merupakan proses Menjadi Merohanikan Diri untuk sampai pada puncak keberanian merelakan Diri untuk menomorsatukan banyak orang. Jika Bersastra penuh wisaya (kemelekatan niat mementingkan diri sendiri), niscaya akan menuai wisya (racun mematikan). Dan, wisya bukan menyehatkan, malah menggiring hidup menuju kebangkrutan. 

Sampai di sini saya akhiri catatan pertemuan kita ini dengan ajakan mari kita bersama-sama Berupacara Diri: 

..

dari kabut fajar sanur hingga megah senja kuta
bermalam siang tabuh gunung meru merasuki jiwa
di lambung lumbung lambang kedewatan balidwipa
berbanjar peri candi melontar genta yang purba
di luar teratai
di dalam semadi
  di luar kepala
di dalam semesta:
langit ilmu manusiawi
masuk ke luar kamus sukmaku
bumi teknologi rohani
raung hutan hantu di lubuk tuhanku
samudera galaksi pribadi
membajak-bajak rawapaya payahku
rahasia seni puisi
bermuka-muka fanabakaku
( beruas-ruas bambu tuak
tuang-tuang tualang gelegak
bergaung parang perang tenggak ke puncak
menatah patah kata sajak
di luar kepala
di dalam semesta
di luar teratai
di dalam semadi)
(UPACARA XXXVII, Umbu Landu Paranggi, 
Kedewatan, Agustus-Desember 1982)


Terima kasih. NUSANTARA JAYA!
ULP

Pidato Sastra dalam Seminar Internasional Sastra Indonesia di Bali 2019: Sastra, Lingkungan, dan Kita  Taman Budaya Provinsi Bali, 10-13 Oktober 2019. 

Sabtu, 04 Mei 2019

R E P E T I S I

Kardanis Mudawi Jaya

R E P E T I S I

Gradasi semesta memainkan warna
Di mata di kumandangkan suara angin
Daun dipaksa menari
Sebagian  gugur
Sebagian lagi terus saja menari
                  menunjukkan diri ke langit.
Saban hari seperti itu
Dua wujud berada pada ruang waktu
Dan suara yang berserak
                            adalah kekosongan itu.
Laras dan kontras
Memberi jeda pada kesunyian
Perasaan halus-kasar tak teraba
                 berdiam dalam kehidupan
Pengembaraan yang berulang ulang.

Hidup adalah memenuhi selera
                        tanpa pengulangan
                        tanpa membosankan
Seperti membuka jendela di dinding
                                  ;What you mind?
Di kepala kekontrasan berseliweran
Ia menjelma keinginann berlebihan
            berserakan
                        mengacaukan pikiran.



MEI 2019



Jumat, 25 Januari 2019

Esai Budaya; I Wayan Westa

Ida Pedanda Istri Mas, Wiku Tapini yang Sahaja


//Dialah arsitek banten sekaligus  manggala wiku tapini dalam upacara-upacara besar di Pura Agung  Besakih. Mulai dari  Ekadasa Rudra, Panca Balikrama, Eka Buwana, Tri Buwana, dan Candi Narmada di Pantai Batu Klotok, Ida Pedanda Istri Mas  seperti tak dilewatkan   momen penting itu. Ia senantiasa hadir di balik kisah besar itu dan begitu dekat dengan sisia-nya//

Barangkali tak banyak yang mencapai usia 100 tahun di awal melenium ini.  Tetapi di Desa  Budakeling  - desa pusat Brahmana Buddha  di wilayah Karangasem, tepat di kaki Bukit Hyang Pinggan, seorang sulinggih merengkuh usia panjang  penuh rasa syukur. Dialah Ida Pedanda Istri Mas, sulinggih tua yang menyandang gelar Abra Sinuhun – karena putra diksa-nya telah menurunkan tiga kali upacara diksa (pensucian), dari putra didarma hingga cicit didarma. Sebuah perjalanan inisiasi yang boleh dibilang langka.

Sore di awal bulan Oktober 2001, kami  menginjakkan kaki di halaman  Geria Dauh, Budekeling, Karangasem,  hendak berbincang dengan pendeta sepuh, arsitek banten tersohor di Bali. Memasuki halaman  geria tempat Ida Pendanda Istri Mas menghabiskan masa tuanya. Orang bisa jadi mudah terusik, betapa geria ini memberi gambaran rumah-rumah Bali tempo dulu. Kesan kekunaan amat kental. Di sana sini halaman dirimbuni pohon dagdag, sumber pakan babi paling bergizi. Geria ini tak  terlihat mewah,  begitu sahaja, bahkan nyaris tak terurus.

Maklum hanya seorang diri Ida Pedanda Istri berada di geria yang cukup luas ini.  Mungkin Ida Pedanda  merasa  lebih  nyaman  dalam  suasana seperti ini. Angkul-angkul dan tembok pembatas pekarangan (pintu utama)  geria terbangun dari tanah citakan. Di Bale Daja, tempat Ida Pedanda Istri sehari-hari beristirahat tergantung puluhan lontar embat-embatan, hingga lontar-lontar yang tergantung itu terlihat merumbai-rumbai. Teks yang tak pernah beliau tinggalkan,  dibaca kapan saja  diperlukan. Sejumlah penghargaan dan gambar Ida Pedanda tergantung kusam di tembok.

Sore itu, Ida Pedanda duduk  melongsor di kursi tua. Raut mukanya bening, tatapannya teduh.  Menyapa ramah tamu yang datang. Sejak pagi–pagi buta, sebelum surya bertenger di pucak Bukit Hyang Pinggan,  Ida Pedanda suntuk menghadiri upacara besar: Homa Jambala Semadi di Pura Taman Sari  Budakeling – wilayah di mana dulu adalah asrama Dang Hyang Astapaka, leluhurnya. Upacara ini bisa jadi yang terbesar sejak Dang Hyang Astapaka memimpin upacara Homa di Kerajaan Gelgel lima abad silam – di masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Ada rasa gembira Ida Pedanda bisa menyaksikan upacara itu kembali.

Dengan tatapan berbinar, Ida Pendanda menyapa kami, “Deriki malinggih di tikehé (duduk di sini, di tikar)”. Suara itu terdengar sedikit serak, mencairkan suasana sedari tadi membeku. Ida Pedanda menampin sirih, dijimpitnya pinang, kapur, lalu mengulum pelan. Tangannya menggiling-giling tembakau. Adengan mengunyah sirih ini terlihat seperti ritual mencicipi enam rasa. Sementara matahari sorong ke tepi barat, udara  masih begitu gerah. Seperti yogini tua, Ida Pedanda terlihat tenang,   segar,  kulitnya bersih – tak diganggu keriput,  rambut masih hitam legam. Bila pun usur, raganya masih terasa sehat. Bayangkan, serenta itu Ida Pedanda masih kuat mendaki puncak Lempuyang, memuja di Pura Luhur Lempuyang. Ini tentu prestasi luar biasa bagi orang yang telah berusia satu abad.

"Apa rahasia panjang  umur Ida Pendanda Istri?", saya memulai bertanya.  Ida Pedanda menjawab dengan bahasa Bali,  "Mirib sangkaning tuyuh, majalan kema-mai, ngayahin wargi. Tiang ten uning, uling 95 tiban tiang  mula tan taén katibén sakit, sajawaning duang tiban né wawu, tiang keni strok, mangkin sampun mawali seger, dumadak Ida Hyang swéca ( Mungkin karena  sibuk, berjalan kesana kemari, mengabdi warga. Dari 95 tahun silam saya memang tak pernah terkena sakit, terkecuali dua tahun baru-baru ini, tiang terkena stroke, sekarang sudah sehat kembali, semoga Ida Hyang memberkati.

Ternyata Ida Pedanda adalah tukang cerita yang piawai. Percakapan  sore itu berjalan mengalir, ringan dan terkadang kocak. Hampir tak ada jeda  berarti. Sembari menyuguhkan kopi hangat,  pisang raja, Ida Pedanda berkisah panjang lebar tentang dirinya. Tentang derita dan bahagia. Orang mudah  dibuat terkesima – betapa di usia senja Ida Pedanda masih  berdaya ingat bernas. Melebihi kemampuan orang muda.   Ida Ayu Made Rai, begitu ia akrab dipanggil saat masih welaka (sebelum disucikan menjadi pendeta)  bukanlah seorang terpelajar secara formal. Karena tak sekalipun ia pernah mengenyam bangku sekolah.

Namun keakarabannya dengan teks beraksara Bali, pengetahuan yang luas tentang  wariga, plalutuk (kitab petunjuk upakara) dan lontar lainnya, menunjukkan  dirinya  sebagai orang yang suka belajar. Tapi Ida Pedanda toh  tetap tak enak dengan pujian semacam itu, “Tiang mula tan naen malajah seken, sajabaning tekening entalé ané magantung nika (Saya memang tidak pernah belajar serius kecuali pada lontar yang tergantung itu),” ujar  Ida Pendada sembari menunjuk lontar yang tergantung di saka Bale Daja.

“Kénkénang tiang malajah seken, katungkul paling kema-mai mapangayah kapining braya (Mau bagaimana belajar serius, karena selalu sibuk mengabdi kepada warga),” kenang Ida Pedanda sembari ketawa kecil. Sejak remaja belia Dayu Rai memang telah akrab dengan bebanten. Ia bisa bermingu-minggu berada di satu desa hanya untuk urusan upakara. Entah itu upacara Pitra Yadnya, Buta Yadnya, Dewa Yadnya, dan sebagainya. Hampir tak ada waktu baginya untuk pulang ke geria. Begitu  beruntun, bergulir  terus dari satu desa ke desa lain- sebelum nantinya upacara itu dipuput  sulinggih. Di kemudian hari, tanpa disadari, kesibukan itu menjadi semacam “sekolah”, sebuah  proses belajar yang kelak melahirkan dirinya  sebagai arsitek banten terpercaya. Sampai kini keahlian itu mungkin tak tertandingi. Banyak di antara  sarati banten  merasa tak lengkap jika tak belajar padanya.

“Awalnya tiang  buta huruf,” akunya pendek. Tapi profesi sebagai seorang tapini (sarati banten)  menuntut pemahaman lebih luas. Terutama penguasaan  warisan teks lontar yang melimpah  tersimpan  di geria. Lontar-lontar itu harus dibaca, dipahami isinya. Tapi lacur, bagaimana menghadapi teks melimpah itu tanpa tahu baca tulis. Pengalaman menarik memicu Dayu Rai  ngotot belajar  aksara Bali. Suatu hari di sebuah desa, ia dipercaya sebagai tukang banten dalam upacara Pitra Yadnya.  Karena begitu banyak sekah (simbolik roh orang yang akan diaben) Dayu Rai kewalahan mengingat satu-persatu sekah –sekah itu. Ia pun  mencari cara tersendiri  mengingat nama sekah-sekah itu dengan menyelipkan lembaran daun beringin dalam posisi tertentu pada sekah bersangkutan -  dengan begitu sekah-sekah itu mudah diingat. Namun cara ini ternyata tak banyak membantu. Timbulah keinginan Dayu Rai belajar aksara, sekiranya di sekah itu bisa disuratkan nama.

Beberapa minggu Dayu Rai muda coba belajar  baca tulis aksara Bali pada kerabat dekatnya. Dalam tempo singkat, ia dengan mudah mengusai kemampuan baca tulis aksara Bali dengan baik. Selebihnya  belajar sendiri - bertanya pada lontar-lontar yang tergantung kusam di saka geria. Inilah awal mula Dayu Rai memasuki peradaban aksara. Peradaban yang kelak mengukuhkan dirinya sebagai brahmana -  menjadi pendeta yang saban pagi  menarikan  tarian mudra - menyongsong  Hyang Hari menyingsing di Pucak Bukit Hyang Pinggan. Memang  sejak tahun 1953 lantaran harus mengikuti jejak suami, Ida Ayu Rai sah menjalani pensucian sebagai sulinggih. Sayang Ida Pedanda Lanang, sang suami  mendahului berpulang dalam usia tergolong masih muda. Hingga tugas-tugas kebrahmanaan dituntaskan  seorang diri.

Bercakap panjang dengan sulinggih kelahiran tahun 1901 ini, orang seakan berhadapan dengan insklopedi banten tebal. Bila dipelajari  memerlukan waktu  panjang, memang. Pendeta ini  tak saja menguasai aturan normatif sebagaimana tersurat dalam sejumlah plalutuk banten.  Lebih dari itu , sebagai wiku tapini bersekte Wajrayana Buddha  menjadikan upakara itu sebagai  “jalan besar” menuju sang maha hakikat.  Sejak tahun 1963,  dalam upacara Eka Dasa Rudra di Pura Agung Besakih, peran pendeta yang satu ini nyata sangat besar. Dialah arsitek banten sekaligus  manggala wiku tapini dalam upacara-upacara besar berikutnya di Besakih, mulai dari  Panca Balikrama, Eka Buwana, Tri Buwana, dan Candi Narmada di Pantai Batu Klotok. Entalah, Ida Pedanda Istri Mas  seperti tak dilewatkan  oleh waktu dan momen penting itu. Ia senantiasa hadir di balik kisah besar itu dan sangat dekat dengan sisia-nya.  Dan Ida Pedanda sendiri memaknai  jalan ini sebagai jalan pelayanan.

Tahun 1963 sebelum Gunung Agung meletus, tampaknya merupakan ujian berat bagi Ida Pedanda Istri Mas. Bayangkan seorang diri sebagai wiku tapini ia diberi tanggung jawab mengatur dan menyiapkan rangkain upakara Eka Dasa Rudra di Besakih. “Saat itu saya memang  belum paham benar dengan plalutuk, apa lagi mengenai pembagian tempat-tempatnya. Siang malam harus membaca ulang lontar-lontar, sampai- sampai kurus berpikir. (Duké punika gumanti titiang durung tatas pisan ring plalutuk, napi malih ngeninin pedum wedik-wedik. Peteng lemah maritastasang ental, mawinan kantos berag makeneh ),” kenang Ida Pedanda.

Sampai kini pengalaman itu tetap terbayang di benak Ida Pedanda. Sehingga kehati-hatian menjadi hal penting  dalam menjalankan kramaning tukang banten. Tak saja pada seorang wiku tapini, tetapi bagi siapa pun  mendalami upakara dengan benar. Saban hari setiap ada kesempatan, Ida Pedanda Istri pasti melid mewanti-wati para tukang banten, supaya  jangan gegabah,   senantiasa   ingat besuci diri. Sejauh itu para tukang banten disarankan hendaknya tak cuma pintar membuat, tapi juga memahami  maknanya. “Wantah abot ngamargiang sasana wiku tapini, yaning salah pasurupan turmaning kirang pangresepé  tan urungan ngawetuang céda (Sangat berat menjalankan sasana wiku tapini, jika salah dalam tindakan dan kurang pemahaman, tak terhindarkan menyebabkan cacat),”  papar Ida Pedanda mewanti-wanti.

Namun ada kalanya upakara tak selalu tampil megah . Ekspresinya bisa saja disederhanakan. Tapi sekali lagi menurut Ida Pedanda, hendaknya jangan gegabah, “Ageng alité gumanti mamargi manut genah, sakewanten pedumé mangda pepek, ngeninin uparengganyané dados tunain, sampunang salah surup (Besar kecil upakara hendaknya sesuai keadaan,  pembagiannya supaya lengkap, mengenai materialnya bisa saja dikurangi )," wejang Ida Pedanda pelan.  Petuah ini sekaligus   menjawab problema  yang kini marak, yakni menyangkut esensialiasi upacara. Tapi toh perubahan tetap menunggu proses pendalaman. Tak gampang mengubah pola pikir, memang.

Dalam usianya yang panjang, ada hal penting  diteladani dari pendeta tua ini. Yakni: mengendalikan ego memiliki. Memang banyak orang dibuat sakit karena tidak bisa menundukkan ego itu.  Ida Pedanda tampaknya sadar betul, bahwa keinginan memiliki menyebabkan gerakan tidak bebas – ngawinang pajalanne lantud.   Boleh jadi karena ini Ida Pedanda tak pernah merasa kehilangan. Walau 2,5 kg emas  miliknya hilang  saat upacara  Eka Buwana di Besakih, Ida Pedanda tetap bisa tertawa, tegar,  tak digangu kejadian  menyedihkan itu. “To nguda emas kone pangelingin, mani mati tusing  mabekel apan-apan (Kenapa emas ditangisi, besok mati memang tak akan berbekal apa-apa),” ujar Ida Pedanda  dingin.

Hidup senantiasa mengalir, memang. Ada kalanya usia panjang menjadi karunia atau hukuman. Tetapi Ida Pedanda Istri Mas tetap meyakini: hidup  seperti halnya  kisah belum usai – begitu panjang dan berliku – susah ditebak di mana titik perhentian. “Kita hanya menjalani, selebihnya terserah Yang  Kuasa, sebab tak bisa terkirakan apa yang terjadi esok – tan keni panangkane rauh,” ujar Ida Pedanda Istri.

Sementara hari berganti petang. Suara belalang di pagar geria terdengar lamat. Lebih dari tiga jam kami bercakap, tak terasa air mata menitik, senyum yogin tua ini seperti membasuh dahaga -- Geria Dauh  kami tinggalkan, untuk satu titik  kami kembali lagi ke Budekeling, mencium aroma tanahnya, merasakan  hening bajra di pagi buta.

Pendeta Pembaca Garis Tangan

Walau dalam usia renta, pendeta ini sebenarnya jarang berada di geria. Selalu saja ada braya (warga) yang mendak (menjemput). Kadang harus menginap di tempat yang jauh. Minggu-minggu ini beliau mesti berangkat ke Nusa Penida, dalam upacara “Baligia Arnawa”, pensucian samudra. Tak terhitung pula entah berapa kali beliau bolak-balik muput di Jawa, begitu bergulir terus. “Tan taen tiang polih ngelumah, satata majalan kematen. Minab  sangkaning tan polih ngelumah ngawanang tiang seger (tiang  tak pernah dapat istirahat, setiap hari selalu pergi, itu mungkin sebabnya saya bisa sehat),”  papar Ida Peranda rada berguyon.

Bagi Ida Pedanda, tiada  hari tanpa pelayanan, memang. Bila kebetulan  sang pendeta tidak pergi, orang datang tak cuma tanya babanten, tapi tak sedikit yang  datang hendak meramal diri. Ada pula yang datang menanyakan bayuh oton, hari baik (dewasa ayu ) atau sekadar kangen. Menurut orang-orang sekitar, Ida Pedanda sosok yang cerdas meramal nasib orang. Ini bukan semata beliau punya “kepintaran” lain, tetapi lebih disebabkan  karena Ida Pedanda memahami  pawukon begitu mendalam. Berdasarkan pawukon dan hari lahirlah nasib manusia “diramal” sang Sinuhun.

Hari lalu, di tahun 1960-an, Ida Pedanda sempat dirubung para pedagang dari pasar Klungkung. Ketika itu kebetulan Ida Pedanda berada di Puri Klungkung. Entah siapa yang menyebar kabar Ida Pedanda pintar meramal nasib orang. Maka para pedagang itu  pun datang silih berganti -  minta pentunjuk  hidup. Namun diantara yang datang tentu banyak yang kecewa. Karena  banyak di antara pedagang itu memang tidak punya  rejeki jadi  dagang.  Ida Peranda pun menganjurkan pekerjaan lain, yang cocok dengan  hari lahirnya. Justru yang  paling kecewa  mereka yang  bernasib apes sepanjang hidup. Maka Ida Pedanda menganjurkan bayuh oton dan pantangan yang mesti dihindari.

Orang bisa saja meramal nasib berdasarkan wariga dan pawukon. Tetapi Ida Pedanda seawal mungkin mewanti-wanti: nasib tak ditentukan oleh ramalan. Namun lebih ditentukan oleh karma. Bekerja dan berusaha adalah cara ampuh menolong diri-sendiri. Disitulah, pada diri-sendiri: tempat paling layak untuk meminta. Tuhan maha pemberkah memang, tapi tanpa usaha, semua sia-sia. “Maka berbuat baiklah,” pesan Ida Pedanda pendek.***

Penulis
Wayan Westa
Sumber
https://m.facebook.com/100000548427322/posts/2496409900387266/?notif_id=1548469804707198&notif_t=notify_me&ref=notif
Wayan Westa, budayawan dan sastrawan Bali mumpuni yang pada tahun 2014 memperoleh penghargaan Sastra Rancage atas karyanya Tutur Bali (2013). Lelaki kelahiran Klungkung, 27 Januari 1965 ini Lahir di Klungkung, menyelesaikan pendidikan di FKIP Universitas Dwijendra Denpasar, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali. Tahun 1989-1993 mengajar SLUA Saraswati Klungkung, dosen di sejumlah perguruaan tinggi swasta. Menekuni dunia jurnalistik, tulisannya tersebar di sejumlah media; Mingguan Karya Bhakti, Harian Nusa, Bali Post, Kompas, dan Radar Bali. Tahun 2000-2009 bekerja sebagai Redaktur Majalah Gumi Bali SARAD.
Tahun 2010-2012 dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah SABDA. Sebelumnya, dalam rangka Program Pemetaan Bahasa Nusantara, tahun 1999 ia bekerja di The Ford Foundation. Menyunting sejumlah buku diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, Wulan Sedhuwuring Geni (Antologi Cerpen dan Puisi Daerah), Seribu Kunang-Kunang di Manhatan (Terjemahan dalam 13 Bahasa Daerah), dan Sunari (Novel Basa Bali karya Ketut Rida). Rabindranath Tagore, Puisi Sepanjang Zaman, Penerbit Yayasan Darma Sastra, 2002. Menulis buku Tutur Bali.

Minggu, 02 Desember 2018

Puisi

Di Laut Melukiskan Perasaan I
Kelak kita akan melukiskan perasaan  masing masing, jika keberangkatan menuju langit melintasi laut lepas.
Kehidupan kita bertumpuk tumpuk seperti gelombang yang saling membenturkan diri.
Hujan sudah turun dan akan membasahi tubuh kita. Jika hujan menjelma badai, maka di sini kita akan melihat cara kita menuntaskan air mata. Kita hanya bisa berteduh pada mata hati kita.

Aku katakan padamu senja hanya memberikan sisa kecemerlangan matahari. Sebab tidak adalagi yang ia tawarkan selepas fajar untuk mengangkat warna cahaya, kendati mendung tiba. Matahari begitu hangat tanpa harus membujuk menghangatkan. Selepas itu gairah menjadi panas.  Dan pertarungan mempertaruhkan kehidupan diri dimulai.

Betapa lelah mempertaruhkan kesadaran cinta bagi manusia. Tapi tidak bagi lelaki laut yang kerap menghadang maut.

Aku ajak kau kembali bagaimana matahari menjatuhkan warna menjelang senja. Bukan membujuk agar warna malam lebih indah. Tapi ia membawa warnanya ke dalam lebih terang, sekalipun dipenuhi mendung.Di sana ia merayu kegelapan agar tak mendekat.

Ia membuat cahaya bersama berbekal doa doa kematian.

Jika kau lihat cinta menuju senja adalah cinta laut dan langit. Begitu tipis garis batas langit dan laut, keduanya serupa cermin.
Kelak kita akan melukiskan perasaan masing masing. Tentang cinta laut senja yang mengirim maut.

Pantai Karang, Sanur
(Kardanis Mudawi Jaya)

Puisi


Di Laut Melukiskan Perasaan II

Setiap air akan berubah warnanya begitulah kita melihat perangai. Cerminan itu bisakah kita lihat di dari warna yang terpantul. Ketika warna laut mulai berubah adakah pertanyaan dari mana perubahan itu.
Matahari hadir, Ia bersandar pada edarnya membawa sinarnya yang cemerlang.  Demikian pula air  yang menyembur dari sumbernya. Yang terlepas dari urat urat tanah juga akar akar pohon.

Setiap manusia tak menginginkan dirinya hadir dalam keadaan tak sempurna.  Ia akan melangkah, kemudian bertemu pada persimpangan persimpangan berikutnya.  Ia  memilih jalan jalan nasib keberuntungan. Ia belajar berpikir dari seluruh keadaan yang membuatnya terbebas dari segala beban yang menghalangi selepas bebas dari rahim.

Jika aku bertanya bagaimana air dari sungai sungai yang menemukan muaranya?  Laut bebas yang akan mengapungkan apa saja juga menenggelamkan?
Dan apa kah kau mencerminkan sumber air kehidupan? Sementara kekosongan telah mengawali takdir diri terlahir.
Aku sedang belajar menarik diri dari perjalanan.  Memastikan langkah ke mana tujuan. Sebab jika menyebut diri sumber mata air.  Air dalam diri sudah bercampur warna. Kita sedang mengolah rasa untuk keberanian diri menentukan warna air yang kita aliri.

Air menjelma waktu yang beredar dalam darah. Jika beku mengeraslah tubuh ini. Dan denyut jantung membuat dada lebih berdebar mempengaruhi gerak dan pandangan. Dan perjalanan akan menemukan pemberhentiannya.

Air sejatinya akan memantulkan wajahmu dan langit mengaburkan pikiranmu.
Setiap air akan berubah warnanya,  baunya begitulah kita melihat perangai. Jika dalam pikiran di langit langit kepala kita  keruh.


Pantai Karang Sanur
(Kardanis Mudawi Jaya)

Puisi

Di Laut Melukiskan Perasaan III

Dari balik gunung cahaya agung,  kepulangan dan keberangkatan itu selalu tercatat.
Bagaimana mengambil keputusan untuk sebuah jalan pilihan. Di luar pilihan mata mata menghawatirkan dan kecemasan yang bertumpuk. Apa yang bisa dirasakan ketika gelombang menghantam batu karang.  Jika tubuh ini terseret arus terombang ambing, dibenturkan kedinding dinding karang  yang tajam atau tubuh diseret gelombang  lalu digulung hingga ke dasar lautan, tentu yang melihat begitu mencemaskan dengan membawa ketakutan yang luar biasa.

Dari balik gunung cahaya agung,  kepulangan dan keberangkatan itu selalu tercatat. Kehidupan melekat pada tubuh mengental bau paling khas. Seseorang atau bisa jadi orang orang akan mencium khas bau tubuh dan membekas dalam ingatan ingatan.

Terkadang mata ini memang sulit memahami bagaimana kehidupan akan mengakhiri.  Jalan panjang seperti mata air yang abadi mengaliri rasa tawar ini, kemudian penuh dengan garam kehidupan di laut lepas. Di dalam kehidupan itu perih diri bisa kita rasakan. Jika perih bisa dinikmati dengan suka duka, maka kembali dengan kekuatan dari dalamlah kita bisa meredakan rasa perih itu dan tebiasa pada luka luka baru.

Terkadang mata ini memang sulit memahami bagaimana kehidupan akan mengakhiri. Dalam perjalanan panjang di balik gunung cahaya mengajarkan;  setiap perjalanana hidup itu adalah menebar benih. Seluruh harapan bita kita lepaskan ke mana saja.  Sebab benar bahwa tubuh ini adalah ladang sedikit saja kita lalai menghidupi tubuh maka kita akan membuat kering. Dan kerentaan ini menjadi kemarau yang menyedihkan.
Di balik gunug cahaya, cahaya tak terpaku seperti perahu yang tak juga ingin bersandar begitu saja.  Keberangkatan sudah dipersiapkan dan kepulangan entah siapa yang kan mempersiapkan. Bekal hanyalah doa yang paling kuat.

(Warung Luh Tu Pantai Sindhu Sanur, Kardanis Mudawi Jaya)

Sabtu, 01 Desember 2018

Air Keheningan Sembahyang


Jika air adalah isyarat maka jernihkan aku pada kedalaman pasir Mu.
Kita selalu tenggelam pada sebuah keriuhan dalam kemajuan zaman.
Dalam kehidupan modern kita terbiasa dengan kehadiran suara suara yang riuh dari hiruk pikuk manusia. Kemudia suara yang riuh ketika tiba tiba hilang akan membuat kita menjadi tidak biasa.

Dalam sebuah ruang sekalipun sunyi suara suara akan selalu kita dengar.  Entah bagaimana cara indera kita menangkap suara suara itu.  Ia bekerja begitu saja pada tubuh kita.

Apakah keheningan itu ada?
Dalam mengasingkan diri selalu kita akan membawa diri pada keheningan. Lalu dalam keheningan pikiran kita selalu berbekal perbuatan perbuatan masa lalu.  Itu adalah sebagian dari ingatan dari setiap langkah diri. Meski langkah kita sudah berjarak jauh dari tempat yang kita asingkan. Kenangan itu seperti suara suara yang memantul. Ia mengajak bicara dalam kesunyian.

Suara air dari pancuran memberi irama yang kuat.  Ia menghadirkan juga gelembung gelembung kecil di atas air yang tenang. Kemudian pecah dan muncul lagi gelwmbung itu.
Bisakah kita katakan gelembung gelembung itu adalah buah pikiran dari isi kepala. Ia muncul dalam kesunyian atau  juga keheningan.  Mengajak bicara lebih dalam. Kemudian kita menjawabnya sendiri kemudian pertanyaan lain muncul lagi.
Jika
Satu lagi jika suara dalam telaga yang kita fokuskan menghilang anginlah yang akan mendorong suara suara memasuki ruang keheningan diri.

Dalam keheningan suara suara akan hadir memenuhi ruang.  Keheningan tak pernah mengaburkan pikiran kita.
Keheningan membuat suara suara menuju persembahyangan diri.

*Kardanis Mudawi Jaya / Muda Wijaya
Pondok Gaya 2 Desember 2018