Di Laut Melukiskan Perasaan II
Setiap air akan berubah warnanya begitulah kita melihat perangai. Cerminan itu bisakah kita lihat di dari warna yang terpantul. Ketika warna laut mulai berubah adakah pertanyaan dari mana perubahan itu.
Matahari hadir, Ia bersandar pada edarnya membawa sinarnya yang cemerlang. Demikian pula air yang menyembur dari sumbernya. Yang terlepas dari urat urat tanah juga akar akar pohon.
Setiap manusia tak menginginkan dirinya hadir dalam keadaan tak sempurna. Ia akan melangkah, kemudian bertemu pada persimpangan persimpangan berikutnya. Ia memilih jalan jalan nasib keberuntungan. Ia belajar berpikir dari seluruh keadaan yang membuatnya terbebas dari segala beban yang menghalangi selepas bebas dari rahim.
Jika aku bertanya bagaimana air dari sungai sungai yang menemukan muaranya? Laut bebas yang akan mengapungkan apa saja juga menenggelamkan?
Dan apa kah kau mencerminkan sumber air kehidupan? Sementara kekosongan telah mengawali takdir diri terlahir.
Aku sedang belajar menarik diri dari perjalanan. Memastikan langkah ke mana tujuan. Sebab jika menyebut diri sumber mata air. Air dalam diri sudah bercampur warna. Kita sedang mengolah rasa untuk keberanian diri menentukan warna air yang kita aliri.
Air menjelma waktu yang beredar dalam darah. Jika beku mengeraslah tubuh ini. Dan denyut jantung membuat dada lebih berdebar mempengaruhi gerak dan pandangan. Dan perjalanan akan menemukan pemberhentiannya.
Air sejatinya akan memantulkan wajahmu dan langit mengaburkan pikiranmu.
Setiap air akan berubah warnanya, baunya begitulah kita melihat perangai. Jika dalam pikiran di langit langit kepala kita keruh.
Pantai Karang Sanur
(Kardanis Mudawi Jaya)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar