Di Laut Melukiskan Perasaan III
Dari balik gunung cahaya agung, kepulangan dan keberangkatan itu selalu tercatat.
Bagaimana mengambil keputusan untuk sebuah jalan pilihan. Di luar pilihan mata mata menghawatirkan dan kecemasan yang bertumpuk. Apa yang bisa dirasakan ketika gelombang menghantam batu karang. Jika tubuh ini terseret arus terombang ambing, dibenturkan kedinding dinding karang yang tajam atau tubuh diseret gelombang lalu digulung hingga ke dasar lautan, tentu yang melihat begitu mencemaskan dengan membawa ketakutan yang luar biasa.
Dari balik gunung cahaya agung, kepulangan dan keberangkatan itu selalu tercatat. Kehidupan melekat pada tubuh mengental bau paling khas. Seseorang atau bisa jadi orang orang akan mencium khas bau tubuh dan membekas dalam ingatan ingatan.
Terkadang mata ini memang sulit memahami bagaimana kehidupan akan mengakhiri. Jalan panjang seperti mata air yang abadi mengaliri rasa tawar ini, kemudian penuh dengan garam kehidupan di laut lepas. Di dalam kehidupan itu perih diri bisa kita rasakan. Jika perih bisa dinikmati dengan suka duka, maka kembali dengan kekuatan dari dalamlah kita bisa meredakan rasa perih itu dan tebiasa pada luka luka baru.
Terkadang mata ini memang sulit memahami bagaimana kehidupan akan mengakhiri. Dalam perjalanan panjang di balik gunung cahaya mengajarkan; setiap perjalanana hidup itu adalah menebar benih. Seluruh harapan bita kita lepaskan ke mana saja. Sebab benar bahwa tubuh ini adalah ladang sedikit saja kita lalai menghidupi tubuh maka kita akan membuat kering. Dan kerentaan ini menjadi kemarau yang menyedihkan.
Di balik gunug cahaya, cahaya tak terpaku seperti perahu yang tak juga ingin bersandar begitu saja. Keberangkatan sudah dipersiapkan dan kepulangan entah siapa yang kan mempersiapkan. Bekal hanyalah doa yang paling kuat.
(Warung Luh Tu Pantai Sindhu Sanur, Kardanis Mudawi Jaya)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar