Sabtu, 01 Desember 2018

Air Keheningan Sembahyang


Jika air adalah isyarat maka jernihkan aku pada kedalaman pasir Mu.
Kita selalu tenggelam pada sebuah keriuhan dalam kemajuan zaman.
Dalam kehidupan modern kita terbiasa dengan kehadiran suara suara yang riuh dari hiruk pikuk manusia. Kemudia suara yang riuh ketika tiba tiba hilang akan membuat kita menjadi tidak biasa.

Dalam sebuah ruang sekalipun sunyi suara suara akan selalu kita dengar.  Entah bagaimana cara indera kita menangkap suara suara itu.  Ia bekerja begitu saja pada tubuh kita.

Apakah keheningan itu ada?
Dalam mengasingkan diri selalu kita akan membawa diri pada keheningan. Lalu dalam keheningan pikiran kita selalu berbekal perbuatan perbuatan masa lalu.  Itu adalah sebagian dari ingatan dari setiap langkah diri. Meski langkah kita sudah berjarak jauh dari tempat yang kita asingkan. Kenangan itu seperti suara suara yang memantul. Ia mengajak bicara dalam kesunyian.

Suara air dari pancuran memberi irama yang kuat.  Ia menghadirkan juga gelembung gelembung kecil di atas air yang tenang. Kemudian pecah dan muncul lagi gelwmbung itu.
Bisakah kita katakan gelembung gelembung itu adalah buah pikiran dari isi kepala. Ia muncul dalam kesunyian atau  juga keheningan.  Mengajak bicara lebih dalam. Kemudian kita menjawabnya sendiri kemudian pertanyaan lain muncul lagi.
Jika
Satu lagi jika suara dalam telaga yang kita fokuskan menghilang anginlah yang akan mendorong suara suara memasuki ruang keheningan diri.

Dalam keheningan suara suara akan hadir memenuhi ruang.  Keheningan tak pernah mengaburkan pikiran kita.
Keheningan membuat suara suara menuju persembahyangan diri.

*Kardanis Mudawi Jaya / Muda Wijaya
Pondok Gaya 2 Desember 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar