Di Laut Melukiskan Perasaan I
Kelak kita akan melukiskan perasaan masing masing, jika keberangkatan menuju langit melintasi laut lepas.Kehidupan kita bertumpuk tumpuk seperti gelombang yang saling membenturkan diri.
Hujan sudah turun dan akan membasahi tubuh kita. Jika hujan menjelma badai, maka di sini kita akan melihat cara kita menuntaskan air mata. Kita hanya bisa berteduh pada mata hati kita.
Aku katakan padamu senja hanya memberikan sisa kecemerlangan matahari. Sebab tidak adalagi yang ia tawarkan selepas fajar untuk mengangkat warna cahaya, kendati mendung tiba. Matahari begitu hangat tanpa harus membujuk menghangatkan. Selepas itu gairah menjadi panas. Dan pertarungan mempertaruhkan kehidupan diri dimulai.
Betapa lelah mempertaruhkan kesadaran cinta bagi manusia. Tapi tidak bagi lelaki laut yang kerap menghadang maut.
Aku ajak kau kembali bagaimana matahari menjatuhkan warna menjelang senja. Bukan membujuk agar warna malam lebih indah. Tapi ia membawa warnanya ke dalam lebih terang, sekalipun dipenuhi mendung.Di sana ia merayu kegelapan agar tak mendekat.
Ia membuat cahaya bersama berbekal doa doa kematian.
Jika kau lihat cinta menuju senja adalah cinta laut dan langit. Begitu tipis garis batas langit dan laut, keduanya serupa cermin.
Kelak kita akan melukiskan perasaan masing masing. Tentang cinta laut senja yang mengirim maut.
Pantai Karang, Sanur
(Kardanis Mudawi Jaya)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar