Jumat, 25 Januari 2019

Esai Budaya; I Wayan Westa

Ida Pedanda Istri Mas, Wiku Tapini yang Sahaja


//Dialah arsitek banten sekaligus  manggala wiku tapini dalam upacara-upacara besar di Pura Agung  Besakih. Mulai dari  Ekadasa Rudra, Panca Balikrama, Eka Buwana, Tri Buwana, dan Candi Narmada di Pantai Batu Klotok, Ida Pedanda Istri Mas  seperti tak dilewatkan   momen penting itu. Ia senantiasa hadir di balik kisah besar itu dan begitu dekat dengan sisia-nya//

Barangkali tak banyak yang mencapai usia 100 tahun di awal melenium ini.  Tetapi di Desa  Budakeling  - desa pusat Brahmana Buddha  di wilayah Karangasem, tepat di kaki Bukit Hyang Pinggan, seorang sulinggih merengkuh usia panjang  penuh rasa syukur. Dialah Ida Pedanda Istri Mas, sulinggih tua yang menyandang gelar Abra Sinuhun – karena putra diksa-nya telah menurunkan tiga kali upacara diksa (pensucian), dari putra didarma hingga cicit didarma. Sebuah perjalanan inisiasi yang boleh dibilang langka.

Sore di awal bulan Oktober 2001, kami  menginjakkan kaki di halaman  Geria Dauh, Budekeling, Karangasem,  hendak berbincang dengan pendeta sepuh, arsitek banten tersohor di Bali. Memasuki halaman  geria tempat Ida Pendanda Istri Mas menghabiskan masa tuanya. Orang bisa jadi mudah terusik, betapa geria ini memberi gambaran rumah-rumah Bali tempo dulu. Kesan kekunaan amat kental. Di sana sini halaman dirimbuni pohon dagdag, sumber pakan babi paling bergizi. Geria ini tak  terlihat mewah,  begitu sahaja, bahkan nyaris tak terurus.

Maklum hanya seorang diri Ida Pedanda Istri berada di geria yang cukup luas ini.  Mungkin Ida Pedanda  merasa  lebih  nyaman  dalam  suasana seperti ini. Angkul-angkul dan tembok pembatas pekarangan (pintu utama)  geria terbangun dari tanah citakan. Di Bale Daja, tempat Ida Pedanda Istri sehari-hari beristirahat tergantung puluhan lontar embat-embatan, hingga lontar-lontar yang tergantung itu terlihat merumbai-rumbai. Teks yang tak pernah beliau tinggalkan,  dibaca kapan saja  diperlukan. Sejumlah penghargaan dan gambar Ida Pedanda tergantung kusam di tembok.

Sore itu, Ida Pedanda duduk  melongsor di kursi tua. Raut mukanya bening, tatapannya teduh.  Menyapa ramah tamu yang datang. Sejak pagi–pagi buta, sebelum surya bertenger di pucak Bukit Hyang Pinggan,  Ida Pedanda suntuk menghadiri upacara besar: Homa Jambala Semadi di Pura Taman Sari  Budakeling – wilayah di mana dulu adalah asrama Dang Hyang Astapaka, leluhurnya. Upacara ini bisa jadi yang terbesar sejak Dang Hyang Astapaka memimpin upacara Homa di Kerajaan Gelgel lima abad silam – di masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Ada rasa gembira Ida Pedanda bisa menyaksikan upacara itu kembali.

Dengan tatapan berbinar, Ida Pendanda menyapa kami, “Deriki malinggih di tikehé (duduk di sini, di tikar)”. Suara itu terdengar sedikit serak, mencairkan suasana sedari tadi membeku. Ida Pedanda menampin sirih, dijimpitnya pinang, kapur, lalu mengulum pelan. Tangannya menggiling-giling tembakau. Adengan mengunyah sirih ini terlihat seperti ritual mencicipi enam rasa. Sementara matahari sorong ke tepi barat, udara  masih begitu gerah. Seperti yogini tua, Ida Pedanda terlihat tenang,   segar,  kulitnya bersih – tak diganggu keriput,  rambut masih hitam legam. Bila pun usur, raganya masih terasa sehat. Bayangkan, serenta itu Ida Pedanda masih kuat mendaki puncak Lempuyang, memuja di Pura Luhur Lempuyang. Ini tentu prestasi luar biasa bagi orang yang telah berusia satu abad.

"Apa rahasia panjang  umur Ida Pendanda Istri?", saya memulai bertanya.  Ida Pedanda menjawab dengan bahasa Bali,  "Mirib sangkaning tuyuh, majalan kema-mai, ngayahin wargi. Tiang ten uning, uling 95 tiban tiang  mula tan taén katibén sakit, sajawaning duang tiban né wawu, tiang keni strok, mangkin sampun mawali seger, dumadak Ida Hyang swéca ( Mungkin karena  sibuk, berjalan kesana kemari, mengabdi warga. Dari 95 tahun silam saya memang tak pernah terkena sakit, terkecuali dua tahun baru-baru ini, tiang terkena stroke, sekarang sudah sehat kembali, semoga Ida Hyang memberkati.

Ternyata Ida Pedanda adalah tukang cerita yang piawai. Percakapan  sore itu berjalan mengalir, ringan dan terkadang kocak. Hampir tak ada jeda  berarti. Sembari menyuguhkan kopi hangat,  pisang raja, Ida Pedanda berkisah panjang lebar tentang dirinya. Tentang derita dan bahagia. Orang mudah  dibuat terkesima – betapa di usia senja Ida Pedanda masih  berdaya ingat bernas. Melebihi kemampuan orang muda.   Ida Ayu Made Rai, begitu ia akrab dipanggil saat masih welaka (sebelum disucikan menjadi pendeta)  bukanlah seorang terpelajar secara formal. Karena tak sekalipun ia pernah mengenyam bangku sekolah.

Namun keakarabannya dengan teks beraksara Bali, pengetahuan yang luas tentang  wariga, plalutuk (kitab petunjuk upakara) dan lontar lainnya, menunjukkan  dirinya  sebagai orang yang suka belajar. Tapi Ida Pedanda toh  tetap tak enak dengan pujian semacam itu, “Tiang mula tan naen malajah seken, sajabaning tekening entalé ané magantung nika (Saya memang tidak pernah belajar serius kecuali pada lontar yang tergantung itu),” ujar  Ida Pendada sembari menunjuk lontar yang tergantung di saka Bale Daja.

“Kénkénang tiang malajah seken, katungkul paling kema-mai mapangayah kapining braya (Mau bagaimana belajar serius, karena selalu sibuk mengabdi kepada warga),” kenang Ida Pedanda sembari ketawa kecil. Sejak remaja belia Dayu Rai memang telah akrab dengan bebanten. Ia bisa bermingu-minggu berada di satu desa hanya untuk urusan upakara. Entah itu upacara Pitra Yadnya, Buta Yadnya, Dewa Yadnya, dan sebagainya. Hampir tak ada waktu baginya untuk pulang ke geria. Begitu  beruntun, bergulir  terus dari satu desa ke desa lain- sebelum nantinya upacara itu dipuput  sulinggih. Di kemudian hari, tanpa disadari, kesibukan itu menjadi semacam “sekolah”, sebuah  proses belajar yang kelak melahirkan dirinya  sebagai arsitek banten terpercaya. Sampai kini keahlian itu mungkin tak tertandingi. Banyak di antara  sarati banten  merasa tak lengkap jika tak belajar padanya.

“Awalnya tiang  buta huruf,” akunya pendek. Tapi profesi sebagai seorang tapini (sarati banten)  menuntut pemahaman lebih luas. Terutama penguasaan  warisan teks lontar yang melimpah  tersimpan  di geria. Lontar-lontar itu harus dibaca, dipahami isinya. Tapi lacur, bagaimana menghadapi teks melimpah itu tanpa tahu baca tulis. Pengalaman menarik memicu Dayu Rai  ngotot belajar  aksara Bali. Suatu hari di sebuah desa, ia dipercaya sebagai tukang banten dalam upacara Pitra Yadnya.  Karena begitu banyak sekah (simbolik roh orang yang akan diaben) Dayu Rai kewalahan mengingat satu-persatu sekah –sekah itu. Ia pun  mencari cara tersendiri  mengingat nama sekah-sekah itu dengan menyelipkan lembaran daun beringin dalam posisi tertentu pada sekah bersangkutan -  dengan begitu sekah-sekah itu mudah diingat. Namun cara ini ternyata tak banyak membantu. Timbulah keinginan Dayu Rai belajar aksara, sekiranya di sekah itu bisa disuratkan nama.

Beberapa minggu Dayu Rai muda coba belajar  baca tulis aksara Bali pada kerabat dekatnya. Dalam tempo singkat, ia dengan mudah mengusai kemampuan baca tulis aksara Bali dengan baik. Selebihnya  belajar sendiri - bertanya pada lontar-lontar yang tergantung kusam di saka geria. Inilah awal mula Dayu Rai memasuki peradaban aksara. Peradaban yang kelak mengukuhkan dirinya sebagai brahmana -  menjadi pendeta yang saban pagi  menarikan  tarian mudra - menyongsong  Hyang Hari menyingsing di Pucak Bukit Hyang Pinggan. Memang  sejak tahun 1953 lantaran harus mengikuti jejak suami, Ida Ayu Rai sah menjalani pensucian sebagai sulinggih. Sayang Ida Pedanda Lanang, sang suami  mendahului berpulang dalam usia tergolong masih muda. Hingga tugas-tugas kebrahmanaan dituntaskan  seorang diri.

Bercakap panjang dengan sulinggih kelahiran tahun 1901 ini, orang seakan berhadapan dengan insklopedi banten tebal. Bila dipelajari  memerlukan waktu  panjang, memang. Pendeta ini  tak saja menguasai aturan normatif sebagaimana tersurat dalam sejumlah plalutuk banten.  Lebih dari itu , sebagai wiku tapini bersekte Wajrayana Buddha  menjadikan upakara itu sebagai  “jalan besar” menuju sang maha hakikat.  Sejak tahun 1963,  dalam upacara Eka Dasa Rudra di Pura Agung Besakih, peran pendeta yang satu ini nyata sangat besar. Dialah arsitek banten sekaligus  manggala wiku tapini dalam upacara-upacara besar berikutnya di Besakih, mulai dari  Panca Balikrama, Eka Buwana, Tri Buwana, dan Candi Narmada di Pantai Batu Klotok. Entalah, Ida Pedanda Istri Mas  seperti tak dilewatkan  oleh waktu dan momen penting itu. Ia senantiasa hadir di balik kisah besar itu dan sangat dekat dengan sisia-nya.  Dan Ida Pedanda sendiri memaknai  jalan ini sebagai jalan pelayanan.

Tahun 1963 sebelum Gunung Agung meletus, tampaknya merupakan ujian berat bagi Ida Pedanda Istri Mas. Bayangkan seorang diri sebagai wiku tapini ia diberi tanggung jawab mengatur dan menyiapkan rangkain upakara Eka Dasa Rudra di Besakih. “Saat itu saya memang  belum paham benar dengan plalutuk, apa lagi mengenai pembagian tempat-tempatnya. Siang malam harus membaca ulang lontar-lontar, sampai- sampai kurus berpikir. (Duké punika gumanti titiang durung tatas pisan ring plalutuk, napi malih ngeninin pedum wedik-wedik. Peteng lemah maritastasang ental, mawinan kantos berag makeneh ),” kenang Ida Pedanda.

Sampai kini pengalaman itu tetap terbayang di benak Ida Pedanda. Sehingga kehati-hatian menjadi hal penting  dalam menjalankan kramaning tukang banten. Tak saja pada seorang wiku tapini, tetapi bagi siapa pun  mendalami upakara dengan benar. Saban hari setiap ada kesempatan, Ida Pedanda Istri pasti melid mewanti-wati para tukang banten, supaya  jangan gegabah,   senantiasa   ingat besuci diri. Sejauh itu para tukang banten disarankan hendaknya tak cuma pintar membuat, tapi juga memahami  maknanya. “Wantah abot ngamargiang sasana wiku tapini, yaning salah pasurupan turmaning kirang pangresepé  tan urungan ngawetuang céda (Sangat berat menjalankan sasana wiku tapini, jika salah dalam tindakan dan kurang pemahaman, tak terhindarkan menyebabkan cacat),”  papar Ida Pedanda mewanti-wanti.

Namun ada kalanya upakara tak selalu tampil megah . Ekspresinya bisa saja disederhanakan. Tapi sekali lagi menurut Ida Pedanda, hendaknya jangan gegabah, “Ageng alité gumanti mamargi manut genah, sakewanten pedumé mangda pepek, ngeninin uparengganyané dados tunain, sampunang salah surup (Besar kecil upakara hendaknya sesuai keadaan,  pembagiannya supaya lengkap, mengenai materialnya bisa saja dikurangi )," wejang Ida Pedanda pelan.  Petuah ini sekaligus   menjawab problema  yang kini marak, yakni menyangkut esensialiasi upacara. Tapi toh perubahan tetap menunggu proses pendalaman. Tak gampang mengubah pola pikir, memang.

Dalam usianya yang panjang, ada hal penting  diteladani dari pendeta tua ini. Yakni: mengendalikan ego memiliki. Memang banyak orang dibuat sakit karena tidak bisa menundukkan ego itu.  Ida Pedanda tampaknya sadar betul, bahwa keinginan memiliki menyebabkan gerakan tidak bebas – ngawinang pajalanne lantud.   Boleh jadi karena ini Ida Pedanda tak pernah merasa kehilangan. Walau 2,5 kg emas  miliknya hilang  saat upacara  Eka Buwana di Besakih, Ida Pedanda tetap bisa tertawa, tegar,  tak digangu kejadian  menyedihkan itu. “To nguda emas kone pangelingin, mani mati tusing  mabekel apan-apan (Kenapa emas ditangisi, besok mati memang tak akan berbekal apa-apa),” ujar Ida Pedanda  dingin.

Hidup senantiasa mengalir, memang. Ada kalanya usia panjang menjadi karunia atau hukuman. Tetapi Ida Pedanda Istri Mas tetap meyakini: hidup  seperti halnya  kisah belum usai – begitu panjang dan berliku – susah ditebak di mana titik perhentian. “Kita hanya menjalani, selebihnya terserah Yang  Kuasa, sebab tak bisa terkirakan apa yang terjadi esok – tan keni panangkane rauh,” ujar Ida Pedanda Istri.

Sementara hari berganti petang. Suara belalang di pagar geria terdengar lamat. Lebih dari tiga jam kami bercakap, tak terasa air mata menitik, senyum yogin tua ini seperti membasuh dahaga -- Geria Dauh  kami tinggalkan, untuk satu titik  kami kembali lagi ke Budekeling, mencium aroma tanahnya, merasakan  hening bajra di pagi buta.

Pendeta Pembaca Garis Tangan

Walau dalam usia renta, pendeta ini sebenarnya jarang berada di geria. Selalu saja ada braya (warga) yang mendak (menjemput). Kadang harus menginap di tempat yang jauh. Minggu-minggu ini beliau mesti berangkat ke Nusa Penida, dalam upacara “Baligia Arnawa”, pensucian samudra. Tak terhitung pula entah berapa kali beliau bolak-balik muput di Jawa, begitu bergulir terus. “Tan taen tiang polih ngelumah, satata majalan kematen. Minab  sangkaning tan polih ngelumah ngawanang tiang seger (tiang  tak pernah dapat istirahat, setiap hari selalu pergi, itu mungkin sebabnya saya bisa sehat),”  papar Ida Peranda rada berguyon.

Bagi Ida Pedanda, tiada  hari tanpa pelayanan, memang. Bila kebetulan  sang pendeta tidak pergi, orang datang tak cuma tanya babanten, tapi tak sedikit yang  datang hendak meramal diri. Ada pula yang datang menanyakan bayuh oton, hari baik (dewasa ayu ) atau sekadar kangen. Menurut orang-orang sekitar, Ida Pedanda sosok yang cerdas meramal nasib orang. Ini bukan semata beliau punya “kepintaran” lain, tetapi lebih disebabkan  karena Ida Pedanda memahami  pawukon begitu mendalam. Berdasarkan pawukon dan hari lahirlah nasib manusia “diramal” sang Sinuhun.

Hari lalu, di tahun 1960-an, Ida Pedanda sempat dirubung para pedagang dari pasar Klungkung. Ketika itu kebetulan Ida Pedanda berada di Puri Klungkung. Entah siapa yang menyebar kabar Ida Pedanda pintar meramal nasib orang. Maka para pedagang itu  pun datang silih berganti -  minta pentunjuk  hidup. Namun diantara yang datang tentu banyak yang kecewa. Karena  banyak di antara pedagang itu memang tidak punya  rejeki jadi  dagang.  Ida Peranda pun menganjurkan pekerjaan lain, yang cocok dengan  hari lahirnya. Justru yang  paling kecewa  mereka yang  bernasib apes sepanjang hidup. Maka Ida Pedanda menganjurkan bayuh oton dan pantangan yang mesti dihindari.

Orang bisa saja meramal nasib berdasarkan wariga dan pawukon. Tetapi Ida Pedanda seawal mungkin mewanti-wanti: nasib tak ditentukan oleh ramalan. Namun lebih ditentukan oleh karma. Bekerja dan berusaha adalah cara ampuh menolong diri-sendiri. Disitulah, pada diri-sendiri: tempat paling layak untuk meminta. Tuhan maha pemberkah memang, tapi tanpa usaha, semua sia-sia. “Maka berbuat baiklah,” pesan Ida Pedanda pendek.***

Penulis
Wayan Westa
Sumber
https://m.facebook.com/100000548427322/posts/2496409900387266/?notif_id=1548469804707198&notif_t=notify_me&ref=notif
Wayan Westa, budayawan dan sastrawan Bali mumpuni yang pada tahun 2014 memperoleh penghargaan Sastra Rancage atas karyanya Tutur Bali (2013). Lelaki kelahiran Klungkung, 27 Januari 1965 ini Lahir di Klungkung, menyelesaikan pendidikan di FKIP Universitas Dwijendra Denpasar, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali. Tahun 1989-1993 mengajar SLUA Saraswati Klungkung, dosen di sejumlah perguruaan tinggi swasta. Menekuni dunia jurnalistik, tulisannya tersebar di sejumlah media; Mingguan Karya Bhakti, Harian Nusa, Bali Post, Kompas, dan Radar Bali. Tahun 2000-2009 bekerja sebagai Redaktur Majalah Gumi Bali SARAD.
Tahun 2010-2012 dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah SABDA. Sebelumnya, dalam rangka Program Pemetaan Bahasa Nusantara, tahun 1999 ia bekerja di The Ford Foundation. Menyunting sejumlah buku diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, Wulan Sedhuwuring Geni (Antologi Cerpen dan Puisi Daerah), Seribu Kunang-Kunang di Manhatan (Terjemahan dalam 13 Bahasa Daerah), dan Sunari (Novel Basa Bali karya Ketut Rida). Rabindranath Tagore, Puisi Sepanjang Zaman, Penerbit Yayasan Darma Sastra, 2002. Menulis buku Tutur Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar