Muda Wijaya
Ziarah Mata di Lembah Kampung Naga
-bersama Bunbun dan Ari
Sebaris kalimat diperas perasaan
“di mana ranah lembah kau singgah
jangan kau ambil apa apa
tapi temukan diri mu. di sana ”
Lubuk lembah sungai sunyi hari-hari
terusan ricik sungai ciwulan pengiring musik
lewati lelah batu lembah yang jauh.
Ranting-ranting tunggangan angin
gesekannya menggubah lagi orkestra lama
memancing mata jatuh ke dasar lembah.
Di mana sebenarnya gerbang
pancaran kening wajah kampung yang ning menyapa
dalam siraman murni peradaban peta pedalaman.
Lembah naga menangkar segala suara
udara bisu meneggelamkan meditasi waktu
dan nyanyianku dipeluk beku dipeluk desir udara mengarsir
dapati tubuh menjelma burung singgahan
meletakkan jenak perjalanan.
Pada keseimbangan segala kalam alam
hening melenyapkan sarang seru suara
sambil membaca takzim tetesan air
mengarahkan aku menggali jejak sendiri. meditasi
pandangku masih berebah pada sandaran panggung kayu
ketika mulutku mengeja satu tingkatan larangan garis ibu
menghantarkan aku turun dari ketinggian
perbatasan gerbang mata air
yang deras mengaliri garis rahim
mengajarkan aku memandikan pandangan pada mata zahir
yang masih saja terikat pada sesat.
Panggilan sunyi menghantar pada sujud tunggal yang tanggal
pada pahatan jejak tak teraba di waktu sepenggal tanda
naik turun hitungan benak tangga tak terpecahkan
batas nalar ke bawah berulang ulang curam.
Menemukan langit-bumi masih bersengketa dalam gravitasi
garis para manusia masih menjinjiti nasib sendiri
mengajarkan lagi aku tafsir abad abad luka
menciumi tanah-tanah lumutan
di lembah pedalaman itu satu garis udara menulis arus sabda
alam tempat di mana gerbang membuka pintu pintunya saja
dan setia menyalakan cahaya sunyi akar peradaban purba
antara genap dan ganjil lakon lahir
jadi bayang yang dibagi.
Pada dingin rupa zat berlindung menitip rinduku timbul
di sela rimbun daun-daunmu meminta
-lepaslah nafas diri dari senandung hutan
sampai temukan rumah paling sunyi menderaskan arus udara
pada jalanku melepaskan segala ratap rupa berhala
yang menghujam pangkal segala mata.
Kebisuan mengambang di setiap setapak
memasuki lubuk lembah naga
membawa lambung yang belum usai pada tanya
adalah sunyi hari-hari yang berbukit.
Pohon-pohon dan batu batu hidup membaca segenap langkah
ngarai yang mengunyah jejak sajak cinta terbayang
dari segenap rasa yang singgah
seperti kerumunan udara lembah basah pada dada
memandangi arah daun-daun muda berayun
kembang-kembang yang mengatupkan warna matanya
di balik dahan.
Kembara mata yang terbang menatap atap
melingkar pada tingkatan tanda tingkap
: menara silang
tapak dara
segi tiga penjaring rupa
lambang penangkal bala selepas doa
dan kidung suci maha kalam menggaris arah mata angin
di pusat lembah mengingat
- serabut enau di atap kepala
menyadap embun tetesan cahaya
dapati sejuk dan khusuk tanah menjaring keruh segala teluh.
Langgam mencair hilir jadi ning menetes retas pada tatapan
mata ikan yang merapat hening aliri kolahan jiwa
hingga mengabar lambang lenting kesahajaan silam
“sampurasun!”
rasa tak kuasa meraba lagi dada
meraba lagi ke langit-langit purba
akar jiwa paling purba mengalahkan jernih suara koin rupiahku
yang jatuh. mengarahkan aku jalan:
“berangkatlah pada kekosongan dada
jauhi badan yang penuh ingin
jangan sesekali menebar umpan”
tangkapku: jangan ada dera
jangan ada luka
jangan ada duka di upacara raya manusia.
Lubuk lembah mengirimkan mimpi kanakku yang luka
di terusan sungai ciwulan asing sendiri membawa mabuk
perdu angin jadi mantra kubawa pulang
jadi terusan rindu kampung halaman.
Tapi terusan rinduku meragu tak menemukan pintu gerbang
tubuhku jauh dari sunyi meragu di kanal kanal hitam putih layar
layar perubah masa
seperti mata dadu jatuh ke aortaku hitam dalam kelopak mata
menjelmakan bayang instan yang mengepung lubuk-lubuk lembah
lubuk lembahku juga.
lembah mengasingkan segala bising mata dingin menatap ingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar