ini anak yang kau timbun dengan pohon kalam...dalam rindu berkalang membenamkan jarak sepasang biji mata. (KALIMAH)
Kamis, 11 November 2010
INTRO LAUT MANUSIAKU MENUJU RUMAHMU
Muda Wijaya.
INTRO LAUT MANUSIAKU MENUJU RUMAHMU
pada penanggalan yang wukuf, din
layar layar perahu bayangku menyeberang
dan karang mengasuhku
di lepas pantai yang terus berjaga
dan gelombang tak pernah mengubur
tubuh yang menuju mahia laut
menuju rumahmu
ada manikam melukiskan sebentuk kaligrafi
dari hijaiyah yang sendiri
ibadah yang berdiri tak pernah mati
memuai dari sahara lautmu juga
atau dari badai padang pasir
dan gelanggang gersang manusiaku
di padang penuh rahasia
(meski bukan arafah
-aku akan berlari lari kecil
menjaring asal mula cahaya)
hingga membenam sebuah musim
mengulum senyum jejak paling jauh
jadi zikir yang tak putus oleh haus
gerusan arus padang tandus
pada laut aku patut patutkan diri
hingga larut akan mautku.
Rabu, 03 November 2010
Kecapi Cianjur (Dari Snerayuza Menara Tri Sandhya Kau Menjerit Dalam)
Muda Wijaya
Kecapi Cianjur
(Dari Snerayuza Menara Tri Sandhya Kau Menjerit Dalam)
-kpd Bpk. Nani Sumarna
Dan selepas subuh selepas manusia mengirim tubuh
meruntuhkan dingin mimpi batu-batu
sambil memaknai lautan embun dengan dzikir
berkawan sayup suara burung
dari menara tri sandhya
menelusur membuka segala indera matahari
serta menambah busur dari sekawan waktu
yang menjamur.
Dzikir pagi hari kau petik dalamnya kecapi
membenturkan setiap perigi
memasuki lagi wilayah meditasi
membagi prihal hati dari muhibbah batin.
Sembilan puluh sembilan telah tergelar
adalah larik awal snera yuza membawa suara surga
setelah labuhan suara kecapi
menyimpan nama nama malam
nama nama silam.
Dalam petikan madenda menggumami siang
di endah langit berkawan siliran angin bersiul
kau tawarkan kumbang hitam
hingga campaka kembar dengan panambih
menembang sedalam doa bertiup perlahan
kau limbungkan tubuh ninaan ayun ayunan
cahaya pancar menyiasati waktu yang tunggal
dan duapuluh ikatan tali kecapimu
menghayati arus duapuluh sifat tuhan.
Gelisah mana memanah dari menara tua parahyangan
membawa tembang tanah pasundan
menghapus rasa haus berabad
abad yang menggumam.
masa lalu itu seakan menyudahi menengadah langit
di natah dapati snera kecapimu mengeja memunah
di benak jari-jari muda tak lagi mengaji
nafasi tradisi silam:
tak ada warna mesti diterlantarkan, katamu
lagi nafas jari-jari keriput menghapus mendung langit
serupa anak-anak menggumam memahami dzikir cinta
ketika angin meminta bersama mengembang
melayang mengisi segala batin dan terbang
seperti membuatkan monumen cinta
memasuki kawah senja khayangan
monumen parahyangan.
Kau berbagi bhatin suara kecapi
dari snerayuza tri sandhya
baiti jerit dalam cianjuran.
Ziarah Mata di Lembah Kampung Naga
Muda Wijaya
Ziarah Mata di Lembah Kampung Naga
-bersama Bunbun dan Ari
Sebaris kalimat diperas perasaan
“di mana ranah lembah kau singgah
jangan kau ambil apa apa
tapi temukan diri mu. di sana ”
Lubuk lembah sungai sunyi hari-hari
terusan ricik sungai ciwulan pengiring musik
lewati lelah batu lembah yang jauh.
Ranting-ranting tunggangan angin
gesekannya menggubah lagi orkestra lama
memancing mata jatuh ke dasar lembah.
Di mana sebenarnya gerbang
pancaran kening wajah kampung yang ning menyapa
dalam siraman murni peradaban peta pedalaman.
Lembah naga menangkar segala suara
udara bisu meneggelamkan meditasi waktu
dan nyanyianku dipeluk beku dipeluk desir udara mengarsir
dapati tubuh menjelma burung singgahan
meletakkan jenak perjalanan.
Pada keseimbangan segala kalam alam
hening melenyapkan sarang seru suara
sambil membaca takzim tetesan air
mengarahkan aku menggali jejak sendiri. meditasi
pandangku masih berebah pada sandaran panggung kayu
ketika mulutku mengeja satu tingkatan larangan garis ibu
menghantarkan aku turun dari ketinggian
perbatasan gerbang mata air
yang deras mengaliri garis rahim
mengajarkan aku memandikan pandangan pada mata zahir
yang masih saja terikat pada sesat.
Panggilan sunyi menghantar pada sujud tunggal yang tanggal
pada pahatan jejak tak teraba di waktu sepenggal tanda
naik turun hitungan benak tangga tak terpecahkan
batas nalar ke bawah berulang ulang curam.
Menemukan langit-bumi masih bersengketa dalam gravitasi
garis para manusia masih menjinjiti nasib sendiri
mengajarkan lagi aku tafsir abad abad luka
menciumi tanah-tanah lumutan
di lembah pedalaman itu satu garis udara menulis arus sabda
alam tempat di mana gerbang membuka pintu pintunya saja
dan setia menyalakan cahaya sunyi akar peradaban purba
antara genap dan ganjil lakon lahir
jadi bayang yang dibagi.
Pada dingin rupa zat berlindung menitip rinduku timbul
di sela rimbun daun-daunmu meminta
-lepaslah nafas diri dari senandung hutan
sampai temukan rumah paling sunyi menderaskan arus udara
pada jalanku melepaskan segala ratap rupa berhala
yang menghujam pangkal segala mata.
Kebisuan mengambang di setiap setapak
memasuki lubuk lembah naga
membawa lambung yang belum usai pada tanya
adalah sunyi hari-hari yang berbukit.
Pohon-pohon dan batu batu hidup membaca segenap langkah
ngarai yang mengunyah jejak sajak cinta terbayang
dari segenap rasa yang singgah
seperti kerumunan udara lembah basah pada dada
memandangi arah daun-daun muda berayun
kembang-kembang yang mengatupkan warna matanya
di balik dahan.
Kembara mata yang terbang menatap atap
melingkar pada tingkatan tanda tingkap
: menara silang
tapak dara
segi tiga penjaring rupa
lambang penangkal bala selepas doa
dan kidung suci maha kalam menggaris arah mata angin
di pusat lembah mengingat
- serabut enau di atap kepala
menyadap embun tetesan cahaya
dapati sejuk dan khusuk tanah menjaring keruh segala teluh.
Langgam mencair hilir jadi ning menetes retas pada tatapan
mata ikan yang merapat hening aliri kolahan jiwa
hingga mengabar lambang lenting kesahajaan silam
“sampurasun!”
rasa tak kuasa meraba lagi dada
meraba lagi ke langit-langit purba
akar jiwa paling purba mengalahkan jernih suara koin rupiahku
yang jatuh. mengarahkan aku jalan:
“berangkatlah pada kekosongan dada
jauhi badan yang penuh ingin
jangan sesekali menebar umpan”
tangkapku: jangan ada dera
jangan ada luka
jangan ada duka di upacara raya manusia.
Lubuk lembah mengirimkan mimpi kanakku yang luka
di terusan sungai ciwulan asing sendiri membawa mabuk
perdu angin jadi mantra kubawa pulang
jadi terusan rindu kampung halaman.
Tapi terusan rinduku meragu tak menemukan pintu gerbang
tubuhku jauh dari sunyi meragu di kanal kanal hitam putih layar
layar perubah masa
seperti mata dadu jatuh ke aortaku hitam dalam kelopak mata
menjelmakan bayang instan yang mengepung lubuk-lubuk lembah
lubuk lembahku juga.
lembah mengasingkan segala bising mata dingin menatap ingin.
Jalan Simpang ke Sading
Muda Wijaya
Jalan Simpang ke Sading
-kpd bpk. inyoman wenten
riuh medan tabuh. dan tarian yang memanjat langit
di jalan simpang sepasang mata tajam sembahyang
menembangkan seloka sedalam doa
begitu kerinduan terekam
menuruni lembah pedusunan
jiwa meliuk seirama tabuh menjulang
ke balik pahatan wajah menyimpan ruh
melewatkan segala bayang
memainkan hasrat khayangan
sepasang pelikan bawakan kenangan layar lontar
dalam gemuruh medan perhitungan
pada riuh kecak mencari wajah sita yang hilang
ketika kalimat kalimat samar asmara
jadi samsara tak mampu digumpalkan
hanya membaca gerak gerak langgam
lambang agni yang serta
dan angin yang tara menggumam
lagu ruh menagkapi percik air
terasa tiis-nya ke bathin menggalirkan gairah
dan suara suara menangkapi hasrat harum dhupa
tak kenal musim menampung segenap senandung
: sumber jiwa
sumber cahaya
segala yang tumbuh dari cinta.
dan cempaka yang bergantung
seperti meniti di rambut hitam panjang
(milik perempuan) para penari itu
tak selesai gelisah ini melamunkan rimbun daun
yang hijau. hanya para kelana mabuk makin jauh
diriuh garis jebakan seperti burung bermimpi
membangun sarang rumah bulan.
menagkapi ladang basah senja
dan jalan panjang manusia
memainkan noktah jejak cinta
bagian mahkota dan melankolia
ada rumput rumput larut turut dan surut bercermin
pada telaga pada gema air yang setia membawa
perjamuan sucinya
sebuah nama dan takdir mana menolak cahaya?
sebab di bilikmulah hening daun menepi
begitu senja tiba bersama bhuta bersengketa
melebihi hening senandung mata air mengingat
jalan pulang.
daun yang menepi menawarkan warna upacara
hanya berbekal cempaka, mawar,
melati rangkaian sesaji
menuju simpang tiga khayangan
tempat para dewa telanjang membangun ektase.
Pohon Qurban
Muda Wijaya
Pohon Qurban
:bagi kekasih bulan
patut patutkan diri melepas apa yang dimiliki
sementara rerimbun pohon pohon memahami
daun daun yang keriput telah melepaskan diri
dan reranting terurai tak henti henti menyerap
segala hawa dan segala apa yang diberi tanah
sebab ujung pohon yang mengakar merambat
dipangkas oleh segala apa yang kau percayai.
dan pohon pohon yang sudah berdiri bersama
jangan hianati akar akar setia yang melingkar
larut memainkan irama air nun di ujung kerak
mengikat diri tetap bertahan menjunjung raya
yang tiada hentinya mengabarkan berita duka
sampai mencapai keserasian dan kelembutan
bersama rerumput surut zikirkan suara suara.
bila rasakan dirimu pohon yang telah dimanja
dan memberi segala mesra sebagai tanda rasa
dan menyambut serta hangatnya cuaca datang
dari jawaban alam yang malam menyapa tiba
hingga tak lagi gelisah hati mencari jawaban
dan membuat ribuan cahaya kunang kunang
menyeberang bersandar mencahayakan dahan
daun dan segala ruang tempat ranting tepekur.
pohon yang tumpah memandangi mega mega
memilih melepaskan diri dari jati kemegahan
menggugah dahan dahannya yang patah atau
daun daunnya yang gugur menguning ditadah
pada tanah yang menjadikan hawanya humus
dan membawakan buah buahnya jadi sedekah
sebagai pembersih jiwa menuju jalan rabbani
yang kelak disadari serupa tapal batas rahasia
yang tak habis habis rindukan penyerahan diri.
2006
Langganan:
Komentar (Atom)


