Minggu, 02 Desember 2018

Puisi

Di Laut Melukiskan Perasaan I
Kelak kita akan melukiskan perasaan  masing masing, jika keberangkatan menuju langit melintasi laut lepas.
Kehidupan kita bertumpuk tumpuk seperti gelombang yang saling membenturkan diri.
Hujan sudah turun dan akan membasahi tubuh kita. Jika hujan menjelma badai, maka di sini kita akan melihat cara kita menuntaskan air mata. Kita hanya bisa berteduh pada mata hati kita.

Aku katakan padamu senja hanya memberikan sisa kecemerlangan matahari. Sebab tidak adalagi yang ia tawarkan selepas fajar untuk mengangkat warna cahaya, kendati mendung tiba. Matahari begitu hangat tanpa harus membujuk menghangatkan. Selepas itu gairah menjadi panas.  Dan pertarungan mempertaruhkan kehidupan diri dimulai.

Betapa lelah mempertaruhkan kesadaran cinta bagi manusia. Tapi tidak bagi lelaki laut yang kerap menghadang maut.

Aku ajak kau kembali bagaimana matahari menjatuhkan warna menjelang senja. Bukan membujuk agar warna malam lebih indah. Tapi ia membawa warnanya ke dalam lebih terang, sekalipun dipenuhi mendung.Di sana ia merayu kegelapan agar tak mendekat.

Ia membuat cahaya bersama berbekal doa doa kematian.

Jika kau lihat cinta menuju senja adalah cinta laut dan langit. Begitu tipis garis batas langit dan laut, keduanya serupa cermin.
Kelak kita akan melukiskan perasaan masing masing. Tentang cinta laut senja yang mengirim maut.

Pantai Karang, Sanur
(Kardanis Mudawi Jaya)

Puisi


Di Laut Melukiskan Perasaan II

Setiap air akan berubah warnanya begitulah kita melihat perangai. Cerminan itu bisakah kita lihat di dari warna yang terpantul. Ketika warna laut mulai berubah adakah pertanyaan dari mana perubahan itu.
Matahari hadir, Ia bersandar pada edarnya membawa sinarnya yang cemerlang.  Demikian pula air  yang menyembur dari sumbernya. Yang terlepas dari urat urat tanah juga akar akar pohon.

Setiap manusia tak menginginkan dirinya hadir dalam keadaan tak sempurna.  Ia akan melangkah, kemudian bertemu pada persimpangan persimpangan berikutnya.  Ia  memilih jalan jalan nasib keberuntungan. Ia belajar berpikir dari seluruh keadaan yang membuatnya terbebas dari segala beban yang menghalangi selepas bebas dari rahim.

Jika aku bertanya bagaimana air dari sungai sungai yang menemukan muaranya?  Laut bebas yang akan mengapungkan apa saja juga menenggelamkan?
Dan apa kah kau mencerminkan sumber air kehidupan? Sementara kekosongan telah mengawali takdir diri terlahir.
Aku sedang belajar menarik diri dari perjalanan.  Memastikan langkah ke mana tujuan. Sebab jika menyebut diri sumber mata air.  Air dalam diri sudah bercampur warna. Kita sedang mengolah rasa untuk keberanian diri menentukan warna air yang kita aliri.

Air menjelma waktu yang beredar dalam darah. Jika beku mengeraslah tubuh ini. Dan denyut jantung membuat dada lebih berdebar mempengaruhi gerak dan pandangan. Dan perjalanan akan menemukan pemberhentiannya.

Air sejatinya akan memantulkan wajahmu dan langit mengaburkan pikiranmu.
Setiap air akan berubah warnanya,  baunya begitulah kita melihat perangai. Jika dalam pikiran di langit langit kepala kita  keruh.


Pantai Karang Sanur
(Kardanis Mudawi Jaya)

Puisi

Di Laut Melukiskan Perasaan III

Dari balik gunung cahaya agung,  kepulangan dan keberangkatan itu selalu tercatat.
Bagaimana mengambil keputusan untuk sebuah jalan pilihan. Di luar pilihan mata mata menghawatirkan dan kecemasan yang bertumpuk. Apa yang bisa dirasakan ketika gelombang menghantam batu karang.  Jika tubuh ini terseret arus terombang ambing, dibenturkan kedinding dinding karang  yang tajam atau tubuh diseret gelombang  lalu digulung hingga ke dasar lautan, tentu yang melihat begitu mencemaskan dengan membawa ketakutan yang luar biasa.

Dari balik gunung cahaya agung,  kepulangan dan keberangkatan itu selalu tercatat. Kehidupan melekat pada tubuh mengental bau paling khas. Seseorang atau bisa jadi orang orang akan mencium khas bau tubuh dan membekas dalam ingatan ingatan.

Terkadang mata ini memang sulit memahami bagaimana kehidupan akan mengakhiri.  Jalan panjang seperti mata air yang abadi mengaliri rasa tawar ini, kemudian penuh dengan garam kehidupan di laut lepas. Di dalam kehidupan itu perih diri bisa kita rasakan. Jika perih bisa dinikmati dengan suka duka, maka kembali dengan kekuatan dari dalamlah kita bisa meredakan rasa perih itu dan tebiasa pada luka luka baru.

Terkadang mata ini memang sulit memahami bagaimana kehidupan akan mengakhiri. Dalam perjalanan panjang di balik gunung cahaya mengajarkan;  setiap perjalanana hidup itu adalah menebar benih. Seluruh harapan bita kita lepaskan ke mana saja.  Sebab benar bahwa tubuh ini adalah ladang sedikit saja kita lalai menghidupi tubuh maka kita akan membuat kering. Dan kerentaan ini menjadi kemarau yang menyedihkan.
Di balik gunug cahaya, cahaya tak terpaku seperti perahu yang tak juga ingin bersandar begitu saja.  Keberangkatan sudah dipersiapkan dan kepulangan entah siapa yang kan mempersiapkan. Bekal hanyalah doa yang paling kuat.

(Warung Luh Tu Pantai Sindhu Sanur, Kardanis Mudawi Jaya)

Sabtu, 01 Desember 2018

Air Keheningan Sembahyang


Jika air adalah isyarat maka jernihkan aku pada kedalaman pasir Mu.
Kita selalu tenggelam pada sebuah keriuhan dalam kemajuan zaman.
Dalam kehidupan modern kita terbiasa dengan kehadiran suara suara yang riuh dari hiruk pikuk manusia. Kemudia suara yang riuh ketika tiba tiba hilang akan membuat kita menjadi tidak biasa.

Dalam sebuah ruang sekalipun sunyi suara suara akan selalu kita dengar.  Entah bagaimana cara indera kita menangkap suara suara itu.  Ia bekerja begitu saja pada tubuh kita.

Apakah keheningan itu ada?
Dalam mengasingkan diri selalu kita akan membawa diri pada keheningan. Lalu dalam keheningan pikiran kita selalu berbekal perbuatan perbuatan masa lalu.  Itu adalah sebagian dari ingatan dari setiap langkah diri. Meski langkah kita sudah berjarak jauh dari tempat yang kita asingkan. Kenangan itu seperti suara suara yang memantul. Ia mengajak bicara dalam kesunyian.

Suara air dari pancuran memberi irama yang kuat.  Ia menghadirkan juga gelembung gelembung kecil di atas air yang tenang. Kemudian pecah dan muncul lagi gelwmbung itu.
Bisakah kita katakan gelembung gelembung itu adalah buah pikiran dari isi kepala. Ia muncul dalam kesunyian atau  juga keheningan.  Mengajak bicara lebih dalam. Kemudian kita menjawabnya sendiri kemudian pertanyaan lain muncul lagi.
Jika
Satu lagi jika suara dalam telaga yang kita fokuskan menghilang anginlah yang akan mendorong suara suara memasuki ruang keheningan diri.

Dalam keheningan suara suara akan hadir memenuhi ruang.  Keheningan tak pernah mengaburkan pikiran kita.
Keheningan membuat suara suara menuju persembahyangan diri.

*Kardanis Mudawi Jaya / Muda Wijaya
Pondok Gaya 2 Desember 2018