Selasa, 04 September 2018

Esai;


Tuhan dan Hantu yang Samar Menjelma Iblis



Meski ada kata hati-hati dalam interaksi kita pada manusia atau dalam hal ini teman dalam pergaulan. Dalam sepak bola lihat saja contoh kecil untuk diperhatikan. Bagaimana suporter Brazil yang selalu memuja-muja tim kesayangannya kini  tidak bisa menerima kekalahan timnya di Piala Dunia. Maka kesebelasan Brazil  harus menerima makian yang tidak enak dari suporternya dan mobil bus kesebelasan negara  itu pun dilempari. Begitulah kabar dari media TV juga media masa lainnya mengabarkan.
Ada hal menarik sekali dalan pandangan Cak Nun ( EmHa Ainun Najib) ketika mengatakan dalam tulisannya yang beredal di media online atau media sosial di salah satu web;  "Berhati-hatilah kepada manusia. Kalau manusia mendapat keuntungan darimu, maka kau di-Nabi-kan, bahkan di-Tuhan-kan. Kau selalu benar, tidak boleh salah, tidak boleh ada yang menyalahkanmu. Tapi kalau suatu hari ia tidak mendapatkan lagi keuntungan darimu, atau kau jatuh dari kekuasaanmu, maka kau segera akan di-Iblis-kan. Atau kalau manusia mendapatkan Tuhan yang dianggap lebih Tuhan darimu, maka dicopot kostum Tuhan darimu”.
Manusia sangat gemar menciptakan berhala untuk dituhankan. Tak jauh-jauh, dalam dunia perpolitikan akan terjadi semacam itu. Kerap sayapun melihat di depan mata dalam pergaulan, bagaimana manusia bersikap rendah. Tentu saja sikap rendah itu adalah untuk mendapat legalitas manusia yang sangat baik. Dalam sebuah kedudukan bisa saja seseorang akan diposisikan, diberikan tempat, untuk tidak ditendang, dianggap ada sekalipun harus memanjangkan lidahnya dan melepaskan wajahnya sedikit tebal dan membiarkan lubuk hatinya ditimbun rasa bahagia yang kosong.
Dunia di jelajahi manusia tanpa rasa malu. Itu bisa saja menghampiri saya sebagai wujud manusia yang katanya sempurna, bisa mendekat pada manusia alim dengan pakaian agama yang sangat indah. Bisa dengan pakaian apa saja asal bisa mendekatkan diri meski dengan cara lebih rendah atau merendahkan diri kasarnya.
Manusia kerap lupa antara tuhan dan hantu  menjadi iblis  begitu tipis dengan segala bisikan-bisikannya. Ia datang pada setiap golongan manusia yang siapa saja bisa dipengaruhinya. Persoalan persoalan yang menguntungkan membuat kita tidak sadar terhadap nafsu. Nafsu untuk memiliki, nafsu untuk kaya, nafsu untuk mendapatkan keuntungan banyak, nafsu untuk menguasai hingga lupa membohongi teman, atau sengaja menggunakan hak milik teman sebagai hak milik sendiri karena nyaman. Dan paling goblok adalah manusia yang saling bersepakat tapi tidak memiliki kesepakatan diatas kertas yang menjadikannya  hitam dan putih. Ketika salah satu tidak diuntungkan yang namanya manusia langsung menjadi iblis. Ancamannya menjadi momok menakutkan. Entah menjadi suara tuhan atau suara hantu. Yang dulunya baik-baik,  disanjung-sanjung kini dicaci maki bahkan disumpahi.
Di sinilah manusia dipenuhi hawa nafsu. Hawa nafsu yang lahir dari kesepakatan kesepakatan yang tidak pasti. Bagaimana memasuki ruang yang indah di langit. Sementara langit kecil di kepala hanya membuahkan angan-angan.
Manusia menipu Tuhan
"Setiap drama kehidupan adalah lakon yang Kau hadirkan."
Nah bisa saja kata Kau itu menunjuk pada manusia atau pada Tuhan juga bisa juga Kau ditujukan untuk manusia yang baik, jika saja menyadari bahwa kehidupan itu penuh lika-liku.
Kerap sekali manusia dihadapkan pada  hal-hal yang mengecewakan. Pertanyaan kerap datang dari diri, "Aapakah ini sudah jalan hidup, atau takdir atau nasib mungkin?"
Sementara semua hal-hal baik sudah ditunjukan dan dilakukan, tapi kenyataannya penderitaan, luka pun harus singgah. Mungkin banyak kita melihat atau juga menyaksikan ketika seseorang menderita. Kita melihatnya atau menyebutnya sebaga nasib atas karma yang dibuat. Di sisi lain kita melihat dan mendengar bagaimana orang-orang berkeyakinan pada agama bahwa itu adalah cobaan sebagai jalan petunjuk Tuhan. Bahwa dengan penderitaan atas cobaan adalah cara Tuhan memberikan kasih sayang. Semua kalimat yang dikeluhkan mengarah pada Tuhan.
Jika bisa disadari bahwa  tuhan bersemayam  di dasar hati yang dalam. Harusnya matang matang  berpikir untuk melakukan eksekusi atas keputusan sendiri. Agar tak membawa nama nama Tuhan. Bisa jadi munkin  Tuhan tertawa ketika disangkutpautkannya atas persoalan yang menimpa nasibnya. Karena Tuhan terbawa dan disebutkan otomatis Tuhan tertawa dan melibatkan diri. Kemudian setiap orang membawa persoalan dirinya pada Tuhan. Masalah manusia yang tadinya jalan bersama saling membawa nama Tuhan. Kemudian berdoa untuk mencelakai atas nama tuhan. Memudah mudahkan bahwa orang itu jadi bangsat, mati sengsara, tersiksa seumur hidup, sampai sampai jalan kematiannya disesatkan ke comberan pun terlobtar sebagai pelampiasan dendam. Sekali lagi Tuhan berkata .. "Ah, mulutmu bawa bawa aku. Dah kau lihat sendiri aja deh. Kalaupun dia sakit itu karena aku sayang. Dan kalaupun dia tidak sakit dan kamu kecewa seumur hidup karena aku sayang. Kalau kau anggap aku nipu doamu yah anggap aja kamu menipuku. Tuhan kok kamu tipu. Bukankah itu perbuatanmu sendiri. Dulu kamu bahagia diberikan  harapan ini itu kamu menduakanmu. Kamu memanjangkan lidahmu. Dan membuat dia lebih melenakanmu." hahahaha...Tuhan itu juga maha menipu, Bo, kalau kamu suka menipu sana sini. Tuhan itu juga  maha membuat konflik. Dan hati-hati, Tuhan itu juga maha nyinyir kalau mendengar kenyinyiran yang diobral. Tuhan maha memperlihatkan kemaluan kalau kamu malu-maluin sesama manusiamu. Jika kamu punya masalah tetaplah berdoa baik-baik jika tak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, monggo diselesaikan secara hukum. Rasanya itu akan lebih adil untuk menemukan jalan terbaik.
Nah begitulah kira-kira pertemuan manusia dengan manusia tentu saja akan ada yang memberikan sandungan. Dalam sebuah jalan bersama manusia bisa saja seirama namun kemudian bisa tidak seirama.
Betapa besar manusia dianugerahi jalan untuk bisa jalan bersama-sama. Lalu sampai pada mimpi bersama menempuh jalan hidup adalah kebahagiaan yang terkandung sebagai jalan meniti jembatan kehidupan yang panjang, menghayati hidup dari satu tempat ke tempat lain, melintasi samudra dengan perahu berdua dua saja (itu adalah angan angan yang selalu melupakan bahwa dalam kebahagiaan ada luka penderitaan mengancam)
Semua seakan terlukiskan begitu indah ketika jalan bersama  mendapatkan hal-hal yang membahagiakan.
Sesungguhnya ada kesulitan pasti ada jalan untuk memudahkan.
Sebaiknya memang kita manusi memang perlu merenungkan ketika ad hal-hal tak terduga yang membuat kebahagian menjadi penderitaan. Oh iya katanya Tuhan mboten sare alias Tuhan tidak tidur.
Jangan samapai lupa  apa yang datang dari Tuhan akan kembali pada Tuhan. Bahwa segala sesuatu jika di iklaskan pasti akan ada manfaatnya. Segala niatan baik akan kembali pada kebaikan. Jika keburukan kau bawa maka keburukan memenuhi ruang dalam diri.

Kardanis MudaWi Jaya*

1 komentar: