Selasa, 19 Agustus 2014

Aku, Kupu Kupu dan Perempuan

Sajak Muda Wijaya

Aku, Kupu Kupu dan Perempuan


seekor kupu kupu terbang dalam ruang
sesekali berdiam di dinding kamar
sesekali memutari bolam
terbentur kaca jendela.

di ruang yang terang aku pandangi
cicak cicak di dinding begitu berapi
merayap untuk dapat menikamnya.

sementara di luar sedikit tampak gelap
seorang perempuan memainkan rokok
asap dari mulutnya di arahkan kelangit.

ini hari minggu akhir bulan aku menunggu
di dompet hanya menyimpan sisa jajan ku
selembar kertas gambar wajah pemetik teh.



Me, a butterfly and a woman

there's a butterfly flying round the room
sometimes alighting on the wall
sometimes circling the lamp
or spreading wings on the window.

In the brightly lit room
i watch the lizards busting to sneak forward and catch her.

meanwhile in the gathering dusk outside
A woman plays with a cigarette
blowing the smoke skywards.

Its the long awaited last sunday of the month
There's only a cake wrapper in my wallet
a scrap of paper with
a picture of a tea picker.


poem by Muda Wijaya translate By Heather Curnow

Jumat, 08 Agustus 2014

Dalam Batuk ku

puisi Kardanis Mudawi Jaya


Ada suara suara yang tak bernilai
Seperti barang barang plastik dan seng
Yang dipukul pukulkan dengan kasar
Tapi memikat telinga ini mendengarkan.

Melihat suara itu tak terjadi pada batukku
Yang membuat banyak orang menghindar
Aku menerima penyiksaan ini sebagai bagian bahasa
Sebagian soal cinta yang tak memukan bentuk warna.

Dalam suara suara itu begitu kental batuku
Dengan dahak berdarah makin menjijikkan
Batukku lebih berirama untuk aku keluarkan.
Menggema seperti benda dipukulkan ke genderang telinga

Aku rasa itu keras dan membuat orang menyingkir
Sebab batukku lebih bahaya bagi dadanya yang merasa sehat.



di muat BaliPost tanggal 13 Juli 2014



Senin, 26 Mei 2014

Kabut Menari Bertaut Kata di Lereng Medini

puisi Kardanis MudaWi Jaya


#Petikan
Risau risau menarilah di kabut Medini  seperti risau kesetian pejalan yang  terkenang
Jamu jamulah cumbuan sunyi  bersulang sulang sendu pendaratan rindu  perjamuan
Ke puncak puncak rahasia lentik jari pemetik daun teh mengolah kesetiaan kesegaran
Hijau bukit cakrawala bercahaya khusuk di hamparan pucuk pucuk daun kesemestaan.


#Medini
Penjaga Itu memainkan lagu jiwa. Memaknai pucuk sunyi kata kata
Pada kabut rendah puncak Medini. Memainkan puncak sunyi yang dingin
Di pucuk pucuk muda daun teh. Tampak pada bibir segar penjaga segala akar
Aku bayangkan bibirmu yang ranum menuang hangat kesepian bibir yang gemetar.

Ada cahaya samar senja yang bergulir. Membuat kabut yang kian menggeliat
Seperti pejalan larut memasuki ruang paling hening. Lalu mata mata segera lurus
Menyalakan setiap pencahayaan dari seluruh batin. Agar tak gelap jalan menuju pulang
Sampai dongengan dongengan malam menjelang tidur panjang menjadi teman kesetiaan.

Medini pucuk pucuk muda daun teh yang lembut. Seperti gadis muda yang menunggu
Dipetik dalam hamparan hamparan rindu. Menggelar segar diruang ruang kehangatan
Melepas segala dingin yang menikam ke sela sela tulang. Yang rawan digelapkan malam
Ketika dingin menghantui seduhan warna rindu tak menemukan tungku tungku penghangat.


# Lanjar
Kau pengendara lihai seperti pengendara yang tak pernah patahati menuju sunyi lereng
Seperti mata jernih anak anak yang akan menjemput bulan. Yang menari ke tengah kabut
Di antara urat urat pohon bebukit daunmu. Menyihir lembut mataku yang mudah dikaburkan
Selepas melihat garis matam­­­­u seperti turunan paling curam mataku tak ingin kehilangan diri.

Pada roda roda yang kau kendalikan menuju jalan tanjakan. Menyisakan kenangan kuat
Di pilar pilar rimbun sengon singgahan unggas, serangga. Juga pada ingatanku menangkap
Percakapan yang tak pernah dijanjikan. Mendengung hingga menuju kepulangan
Dalam kelelahan yang menyambar membawa seluruh suaramu menjadi camilan riang.

Lanjar kata mu penopang jalaran kacang panjang. Bibit penjaga akar akar kata perjalanan
Di sepanjang kedatangan dan kepulangan itu. Kabut Medini menari saksikan aku berpuisi
Seperti penjaga perjalanan agar senja tak mencuri pengelihatan. Bikin desir darah patahati
Serupa panggalian adzan aku berkirim salam mengumandangkan berkali kali kerinduan.



Lereng Medini-Boja-Denpasar, Mei 2014
dimuat BaliPost, tgl 25 mei 2014

Sabtu, 17 Mei 2014

Rebana Perjalanan Musim Panas

puisi Kardanis MudaWi Jaya



Pada limpahan cahaya menyengat. Aku memilih sepi
Seperti impian memelukmu. Lalu mencari di mana aku
Bisa mencumbu warna yang takut. Akan sunyi menjadi.
Melihat jalan diri bersimpangan. Lalu suara parau lantang
Dari ketiadaan angin yang hijau datang. Sejati nafas lain
Berpaling pandangan ganjil. Di bawah pohon kesadaran.
Aku ingin bertukar pelukan. Yang lebih dari jabat tangan
Sambil merekam percakapan. Tentang kekanak berlarian
Menjadi ihwal. Meredam musim datang mengusik jalan.
Mari memahami keringat jernih. Yang tak tahu merengek
Seperti masa kekanak kehilangan permainan. Di halaman
Sambil berjalan membuat aliran. Di mana mesti berserah
Tanpa lagi tengadah. Seperti jalanjalan-orangorang kalah.



Kecicang, Oktober 2013
dimuat BaliPst,tgl 17mei2014
objekpuisi