Sajak Muda Wijaya
Aku, Kupu Kupu dan Perempuan
seekor kupu kupu terbang dalam ruang
sesekali berdiam di dinding kamar
sesekali memutari bolam
terbentur kaca jendela.
di ruang yang terang aku pandangi
cicak cicak di dinding begitu berapi
merayap untuk dapat menikamnya.
sementara di luar sedikit tampak gelap
seorang perempuan memainkan rokok
asap dari mulutnya di arahkan kelangit.
ini hari minggu akhir bulan aku menunggu
di dompet hanya menyimpan sisa jajan ku
selembar kertas gambar wajah pemetik teh.
Me, a butterfly and a woman
there's a butterfly flying round the room
sometimes alighting on the wall
sometimes circling the lamp
or spreading wings on the window.
In the brightly lit room
i watch the lizards busting to sneak forward and catch her.
meanwhile in the gathering dusk outside
A woman plays with a cigarette
blowing the smoke skywards.
Its the long awaited last sunday of the month
There's only a cake wrapper in my wallet
a scrap of paper with
a picture of a tea picker.
poem by Muda Wijaya translate By Heather Curnow
ini anak yang kau timbun dengan pohon kalam...dalam rindu berkalang membenamkan jarak sepasang biji mata. (KALIMAH)
Selasa, 19 Agustus 2014
Jumat, 08 Agustus 2014
Dalam Batuk ku
puisi Kardanis Mudawi Jaya
Ada suara suara
yang tak bernilai
Seperti barang
barang plastik dan seng
Yang dipukul
pukulkan dengan kasar
Tapi memikat
telinga ini mendengarkan.
Melihat suara itu
tak terjadi pada batukku
Yang membuat
banyak orang menghindar
Aku menerima
penyiksaan ini sebagai bagian bahasa
Sebagian soal
cinta yang tak memukan bentuk warna.
Dalam suara suara
itu begitu kental batuku
Dengan dahak
berdarah makin menjijikkan
Batukku lebih
berirama untuk aku keluarkan.
Menggema seperti
benda dipukulkan ke genderang telinga
Aku rasa itu keras
dan membuat orang menyingkir
Sebab batukku
lebih bahaya bagi dadanya yang merasa sehat.
di muat BaliPost tanggal 13 Juli 2014
Senin, 26 Mei 2014
Kabut Menari Bertaut Kata di Lereng Medini
puisi Kardanis MudaWi Jaya
#Petikan
Risau
risau menarilah di kabut Medini seperti
risau kesetian pejalan yang terkenang
Jamu
jamulah cumbuan sunyi bersulang sulang
sendu pendaratan rindu perjamuan
Ke
puncak puncak rahasia lentik jari pemetik daun teh mengolah kesetiaan kesegaran
Hijau
bukit cakrawala bercahaya khusuk di hamparan pucuk pucuk daun kesemestaan.
#Medini
Penjaga
Itu memainkan lagu jiwa. Memaknai pucuk sunyi kata kata
Pada
kabut rendah puncak Medini. Memainkan puncak sunyi yang dingin
Di
pucuk pucuk muda daun teh. Tampak pada bibir segar penjaga segala akar
Aku
bayangkan bibirmu yang ranum menuang hangat kesepian bibir yang gemetar.
Ada
cahaya samar senja yang bergulir. Membuat kabut yang kian menggeliat
Seperti
pejalan larut memasuki ruang paling hening. Lalu mata mata segera lurus
Menyalakan
setiap pencahayaan dari seluruh batin. Agar tak gelap jalan menuju pulang
Sampai
dongengan dongengan malam menjelang tidur panjang menjadi teman kesetiaan.
Medini
pucuk pucuk muda daun teh yang lembut. Seperti gadis muda yang menunggu
Dipetik
dalam hamparan hamparan rindu. Menggelar segar diruang ruang kehangatan
Melepas
segala dingin yang menikam ke sela sela tulang. Yang rawan digelapkan malam
Ketika
dingin menghantui seduhan warna rindu tak menemukan tungku tungku penghangat.
# Lanjar
Kau
pengendara lihai seperti pengendara yang tak pernah patahati menuju sunyi
lereng
Seperti
mata jernih anak anak yang akan menjemput bulan. Yang menari ke tengah kabut
Di
antara urat urat pohon bebukit daunmu. Menyihir lembut mataku yang mudah
dikaburkan
Selepas
melihat garis matamu seperti turunan paling curam mataku tak ingin
kehilangan diri.
Pada
roda roda yang kau kendalikan menuju jalan tanjakan. Menyisakan kenangan kuat
Di
pilar pilar rimbun sengon singgahan unggas, serangga. Juga pada ingatanku
menangkap
Percakapan
yang tak pernah dijanjikan. Mendengung hingga menuju kepulangan
Dalam
kelelahan yang menyambar membawa seluruh suaramu menjadi camilan riang.
Lanjar kata mu penopang jalaran kacang panjang. Bibit penjaga akar akar kata perjalanan
Lanjar kata mu penopang jalaran kacang panjang. Bibit penjaga akar akar kata perjalanan
Di
sepanjang kedatangan dan kepulangan itu. Kabut Medini menari saksikan aku
berpuisi
Seperti
penjaga perjalanan agar senja tak mencuri pengelihatan. Bikin desir darah patahati
Serupa
panggalian adzan aku berkirim salam mengumandangkan berkali kali kerinduan.
Lereng Medini-Boja-Denpasar, Mei 2014
dimuat BaliPost, tgl 25 mei 2014
dimuat BaliPost, tgl 25 mei 2014
Sabtu, 17 Mei 2014
Rebana Perjalanan Musim Panas
puisi Kardanis MudaWi Jaya
Pada limpahan
cahaya menyengat. Aku memilih sepi
Seperti impian memelukmu. Lalu mencari di mana aku
Bisa mencumbu warna yang takut. Akan sunyi menjadi.
Seperti impian memelukmu. Lalu mencari di mana aku
Bisa mencumbu warna yang takut. Akan sunyi menjadi.
Melihat jalan
diri bersimpangan. Lalu suara parau lantang
Dari ketiadaan angin yang hijau datang. Sejati nafas lain
Berpaling pandangan ganjil. Di bawah pohon kesadaran.
Dari ketiadaan angin yang hijau datang. Sejati nafas lain
Berpaling pandangan ganjil. Di bawah pohon kesadaran.
Aku ingin
bertukar pelukan. Yang lebih dari jabat tangan
Sambil merekam percakapan. Tentang kekanak berlarian
Menjadi ihwal. Meredam musim datang mengusik jalan.
Sambil merekam percakapan. Tentang kekanak berlarian
Menjadi ihwal. Meredam musim datang mengusik jalan.
Mari memahami
keringat jernih. Yang tak tahu merengek
Seperti masa kekanak kehilangan permainan. Di halaman
Sambil berjalan membuat aliran. Di mana mesti berserah
Tanpa lagi tengadah. Seperti jalanjalan-orangorang kalah.
Seperti masa kekanak kehilangan permainan. Di halaman
Sambil berjalan membuat aliran. Di mana mesti berserah
Tanpa lagi tengadah. Seperti jalanjalan-orangorang kalah.
Kecicang, Oktober 2013
dimuat BaliPst,tgl 17mei2014
dimuat BaliPst,tgl 17mei2014
Langganan:
Komentar (Atom)





