puisi Kardanis MudaWi Jaya
Pada limpahan
cahaya menyengat. Aku memilih sepi
Seperti impian memelukmu. Lalu mencari di mana aku
Bisa mencumbu warna yang takut. Akan sunyi menjadi.
Seperti impian memelukmu. Lalu mencari di mana aku
Bisa mencumbu warna yang takut. Akan sunyi menjadi.
Melihat jalan
diri bersimpangan. Lalu suara parau lantang
Dari ketiadaan angin yang hijau datang. Sejati nafas lain
Berpaling pandangan ganjil. Di bawah pohon kesadaran.
Dari ketiadaan angin yang hijau datang. Sejati nafas lain
Berpaling pandangan ganjil. Di bawah pohon kesadaran.
Aku ingin
bertukar pelukan. Yang lebih dari jabat tangan
Sambil merekam percakapan. Tentang kekanak berlarian
Menjadi ihwal. Meredam musim datang mengusik jalan.
Sambil merekam percakapan. Tentang kekanak berlarian
Menjadi ihwal. Meredam musim datang mengusik jalan.
Mari memahami
keringat jernih. Yang tak tahu merengek
Seperti masa kekanak kehilangan permainan. Di halaman
Sambil berjalan membuat aliran. Di mana mesti berserah
Tanpa lagi tengadah. Seperti jalanjalan-orangorang kalah.
Seperti masa kekanak kehilangan permainan. Di halaman
Sambil berjalan membuat aliran. Di mana mesti berserah
Tanpa lagi tengadah. Seperti jalanjalan-orangorang kalah.
Kecicang, Oktober 2013
dimuat BaliPst,tgl 17mei2014
dimuat BaliPst,tgl 17mei2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar