Muda Wijaya
Menuju Pasar Perayaan
akan aku tukar ibadahku yang telah aku ruat
dan membuat bertahan
melupakan segala hitungan jalinan tanda
kalkulasi yang kuserahkan
bila terasa kegaduhan yang tergambar di
setiap tawaran aku lupakan
sampai aku temukan salah satu dari
pakaianku menghilang dan bisu
sambil sesekali tangan ini tetap saja
bersulang salam tanpa menukar
kehampaan yang memilih tiap lambang yang dikirim para malaikat.
sekujur tubuhku telah berpeluh dengan
merindukan barisan kalimah
yang bertafakur pada setiap jalan singgahan
mata kaki yang meletup
hingga memendam noda merah dari darah
sebagai jawaban dari ribu
cahaya api dari mimpi debu yang menggebu
menyusurrasa restu ibu
labuhkan segala takdir yang tak sempat aku
bayangkan sebuah jalan
serupa waktu yang tak oleng berpulang dalam
selisih faham di mata.
tampak ada yang suram dalami pakaian
kebesaran begitu cuaca tiba
di mata meraba
dalam jurang kesendirian
menyimpan telaga kecil
serasa matahari telah jatuh pada sebuah mendung dan tak
memberi
jalan keindahan tentang silsilah silsilah
kesetiaan yang kutawarkan
sebagai hasrat saling menyimpan sebuah
nama bernama kerinduan.
begitu datang mainkan salam dan bersulang
dari mata pemantik diri
sebagai lambang dan tanda pertukaran dari
ibadah diri tanpa sunyi
menari sebagai jalan kembali melupakan nama nama perubah nasib
yang berdiri lalu menikam sendiri lagi dari perburuan bernama api
menjadikan sendi dan perigi pecah hingga
segala cahaya tersandang
terbang bukan sebagai pencahayaan tapi
jalan hangat melumaskan
darah dan syahwat yang harusnya terasah
jalari di peta paling fitrah.
dalam hangat keramaian itu kelak aku belah
buahdadamu jadi tanda
sebuah peta bercurah yang matang menguning setelah mengeram
di segala ibadah yang lirih yang tak tak juga aku tunjuk tunjukkan
untuk melunaskan segala pembayaran dari
segala yang membangun
mimpimimpi dari jawaban yang lama tutupi
hati sebagai jalan besar
membagi bagikan daun pacar sebagai rajah penghias segala wajah
pada bulan membagi layar layar penuh dalam
perayaan yang megah.
2006
Terasing
seribu kalimah akhirnya akankah musnah.
bila hati mabuk dalam jiwa yang sengak
kau kan lihat kerapuhan yang mengapur.
seseorang yang kini terasing pandangnya
bertukar tangkap di sebongkah batu batu
yang biru kabarkan diri kehilangan tubuh.
aku tak paham bila cuaca berubah kuyup
menggugurkan lembaran daun daun diri
dari segala perbincangan yang menyala
pada jejak yang ragu dilarung
asal cinta.
bila hidup
hanya mengunjungi kematian
tak akan kau temukan satu jantung kota
dimana burungburung riuh mengabarkan
masuk pada
beragam garis jabat tangan
di sebuah pesta raya dipenuhi bebintang.
beri jalan bagi tanganmu yang terasing
agar tak menjerit lumpuh oleh ketiadaan
meninggalkan kematian dari kejanggalan
tengggelam dalam keindahan perjalanan
antara malam siang yang penuh pelukan
bertukar kelembutan di ruang berbeda.
2006
Muda Wijaya
Bajing
akan aku kabarkan nyanyi nyanyi jalan yang aku singgahi.
bila di pundak hari tak lagi bisa
aku temukan kebahagian
maka pelarianku di kepala waktu lebih
menggebu mencari.
jejak jejakku yang ragu aku temukan dalam isyarat waktu
yang terus mengepung hingga letih dalam nyanyian cuaca
yang meluap
menghabisi segala pikir yang tak
lagi teduh.
mimpi mimpi telah menikung tanpa akhir
sebuah kalimat
dan nafas binatang malam yang mengerjap makin cemas
bintang bintang berlabuh dalam metamorfosa kegelapan
ke seluruh kota
mengorbankan gerbang seribusatu malam.
di sini
aku memacu kesetiaan dalam
ketakacuhan hatimu
berlatar reranting bulan yang tersibak dilempar para dewa
dan membuka segala indera di sebuah jarak mimpi buruk
yang membawaku berlarian melompati hutan hutan rawa
hingga batas biru mengembara bawa hawa
gumpalan luka.
tapak demi tapak mata senja sejajar
menaklukkan cahaya
pada malam
yang menelan rupa rupa lampu mata taman
yang tergelincir menjelma nestapa dalam pangkuan bulan
yang berteriak di batang pohon yang pecah
oleh bayangan
sebab cinta dibawa pergi ketika matahari menunjuk jalan
ditutup suara suara hampa membusuk
direngkuh labirin.
tidak akan kau temukan di mana sebenarnya
aku labuhkan
cinta yang tak terjangkau sampai waktu menemukan mata
yang membeku dalam kolase mimpimimpi yang
berkeping
dibalut lembab udara lalu
menyihir tubuh penuh setubuh
tanpa keluh mengasingkan cahaya dari wajah paling setia
saat terjaga mencumbu buahdada di salah
satu pohon mati
menyaksikan bayang diri beku
kehilangan cermin pagi.
2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar