puisi Kardanis MudaWi Jaya
#Petikan
Risau
risau menarilah di kabut Medini seperti
risau kesetian pejalan yang terkenang
Jamu
jamulah cumbuan sunyi bersulang sulang
sendu pendaratan rindu perjamuan
Ke
puncak puncak rahasia lentik jari pemetik daun teh mengolah kesetiaan kesegaran
Hijau
bukit cakrawala bercahaya khusuk di hamparan pucuk pucuk daun kesemestaan.
#Medini
Penjaga
Itu memainkan lagu jiwa. Memaknai pucuk sunyi kata kata
Pada
kabut rendah puncak Medini. Memainkan puncak sunyi yang dingin
Di
pucuk pucuk muda daun teh. Tampak pada bibir segar penjaga segala akar
Aku
bayangkan bibirmu yang ranum menuang hangat kesepian bibir yang gemetar.
Ada
cahaya samar senja yang bergulir. Membuat kabut yang kian menggeliat
Seperti
pejalan larut memasuki ruang paling hening. Lalu mata mata segera lurus
Menyalakan
setiap pencahayaan dari seluruh batin. Agar tak gelap jalan menuju pulang
Sampai
dongengan dongengan malam menjelang tidur panjang menjadi teman kesetiaan.
Medini
pucuk pucuk muda daun teh yang lembut. Seperti gadis muda yang menunggu
Dipetik
dalam hamparan hamparan rindu. Menggelar segar diruang ruang kehangatan
Melepas
segala dingin yang menikam ke sela sela tulang. Yang rawan digelapkan malam
Ketika
dingin menghantui seduhan warna rindu tak menemukan tungku tungku penghangat.
# Lanjar
Kau
pengendara lihai seperti pengendara yang tak pernah patahati menuju sunyi
lereng
Seperti
mata jernih anak anak yang akan menjemput bulan. Yang menari ke tengah kabut
Di
antara urat urat pohon bebukit daunmu. Menyihir lembut mataku yang mudah
dikaburkan
Selepas
melihat garis matamu seperti turunan paling curam mataku tak ingin
kehilangan diri.
Pada
roda roda yang kau kendalikan menuju jalan tanjakan. Menyisakan kenangan kuat
Di
pilar pilar rimbun sengon singgahan unggas, serangga. Juga pada ingatanku
menangkap
Percakapan
yang tak pernah dijanjikan. Mendengung hingga menuju kepulangan
Dalam
kelelahan yang menyambar membawa seluruh suaramu menjadi camilan riang.
Lanjar kata mu penopang jalaran kacang panjang. Bibit penjaga akar akar kata perjalanan
Lanjar kata mu penopang jalaran kacang panjang. Bibit penjaga akar akar kata perjalanan
Di
sepanjang kedatangan dan kepulangan itu. Kabut Medini menari saksikan aku
berpuisi
Seperti
penjaga perjalanan agar senja tak mencuri pengelihatan. Bikin desir darah patahati
Serupa
panggalian adzan aku berkirim salam mengumandangkan berkali kali kerinduan.
Lereng Medini-Boja-Denpasar, Mei 2014
dimuat BaliPost, tgl 25 mei 2014
dimuat BaliPost, tgl 25 mei 2014





