Jumat, 26 Oktober 2012


Muda Wijaya

            Menuju Pasar Perayaan


akan aku tukar ibadahku yang telah aku ruat dan membuat bertahan
melupakan segala hitungan jalinan tanda kalkulasi yang kuserahkan
bila terasa kegaduhan yang tergambar di setiap tawaran aku lupakan
sampai aku temukan salah satu dari pakaianku menghilang dan bisu
sambil sesekali tangan ini tetap saja bersulang salam tanpa menukar
kehampaan yang memilih tiap lambang  yang dikirim para malaikat.

sekujur tubuhku telah berpeluh dengan merindukan barisan kalimah
yang bertafakur pada setiap jalan singgahan mata kaki yang meletup
hingga memendam noda merah dari darah sebagai jawaban dari ribu
cahaya api dari mimpi debu yang menggebu menyusurrasa restu ibu
labuhkan segala takdir yang tak sempat aku bayangkan sebuah jalan
serupa waktu yang tak oleng berpulang dalam selisih faham di mata.

tampak ada yang suram dalami pakaian kebesaran begitu cuaca tiba
di mata meraba   dalam jurang kesendirian  menyimpan telaga kecil
serasa matahari  telah jatuh pada sebuah mendung dan tak memberi
jalan keindahan tentang silsilah silsilah kesetiaan yang  kutawarkan
sebagai hasrat saling menyimpan sebuah nama   bernama kerinduan.

begitu datang mainkan salam dan bersulang dari mata pemantik diri
sebagai lambang dan tanda pertukaran dari ibadah diri   tanpa sunyi
menari sebagai jalan kembali  melupakan nama nama perubah nasib
yang berdiri  lalu menikam sendiri lagi dari perburuan  bernama api
menjadikan sendi dan perigi pecah hingga segala cahaya tersandang
terbang bukan sebagai pencahayaan tapi jalan hangat   melumaskan
darah dan syahwat yang harusnya terasah jalari di peta paling fitrah.

dalam hangat keramaian itu kelak aku belah buahdadamu jadi tanda
sebuah peta bercurah   yang matang menguning    setelah mengeram
di segala ibadah yang lirih    yang tak tak juga aku tunjuk tunjukkan
untuk melunaskan segala pembayaran dari segala yang membangun
mimpimimpi dari jawaban yang lama tutupi hati sebagai jalan besar
membagi bagikan daun pacar   sebagai rajah  penghias segala wajah
pada bulan membagi layar layar penuh dalam perayaan yang megah.

2006

     

     Terasing


seribu kalimah akhirnya akankah musnah.

bila hati mabuk   dalam jiwa yang sengak
kau  kan lihat kerapuhan  yang mengapur.

seseorang yang kini terasing pandangnya
bertukar tangkap  di sebongkah batu batu
yang biru kabarkan diri kehilangan tubuh.

aku tak paham bila cuaca berubah kuyup
menggugurkan  lembaran daun daun diri
dari segala perbincangan   yang menyala
pada jejak yang ragu  dilarung  asal cinta.

bila hidup  hanya mengunjungi kematian
tak akan kau temukan   satu jantung kota
dimana burungburung riuh mengabarkan
masuk pada  beragam garis  jabat tangan
di sebuah pesta raya dipenuhi  bebintang.

beri jalan bagi tanganmu    yang terasing
agar tak menjerit lumpuh  oleh ketiadaan
meninggalkan kematian dari kejanggalan
tengggelam dalam keindahan  perjalanan
antara malam  siang yang penuh pelukan
bertukar kelembutan di ruang     berbeda.

2006

 





Muda Wijaya
                                           Bajing

akan aku kabarkan nyanyi nyanyi jalan  yang aku singgahi.

bila di pundak hari  tak lagi bisa  aku temukan kebahagian
maka pelarianku di kepala waktu lebih menggebu mencari.

jejak jejakku  yang ragu aku temukan dalam isyarat waktu
yang terus mengepung  hingga letih dalam nyanyian cuaca
yang meluap  menghabisi segala pikir  yang tak lagi teduh.

mimpi mimpi telah menikung  tanpa akhir  sebuah kalimat
dan nafas binatang malam  yang mengerjap   makin cemas
bintang bintang berlabuh   dalam metamorfosa  kegelapan
ke seluruh kota  mengorbankan gerbang seribusatu malam.

di sini  aku memacu kesetiaan  dalam ketakacuhan hatimu
berlatar reranting bulan  yang tersibak dilempar para dewa
dan membuka segala indera  di sebuah jarak  mimpi buruk
yang membawaku berlarian   melompati hutan hutan rawa
hingga batas biru mengembara bawa hawa gumpalan luka.

tapak demi tapak mata senja  sejajar  menaklukkan cahaya
pada malam  yang menelan  rupa rupa lampu   mata taman
yang tergelincir menjelma nestapa  dalam pangkuan bulan
yang berteriak di batang pohon yang pecah oleh bayangan
sebab cinta dibawa pergi  ketika matahari  menunjuk jalan
ditutup suara suara hampa   membusuk   direngkuh labirin.

tidak akan kau temukan di mana sebenarnya aku labuhkan
cinta yang tak terjangkau  sampai waktu menemukan mata
yang membeku dalam kolase mimpimimpi yang berkeping
dibalut lembab udara   lalu  menyihir tubuh penuh setubuh
tanpa keluh mengasingkan cahaya  dari wajah paling setia
saat terjaga mencumbu buahdada di salah satu pohon mati
menyaksikan bayang diri   beku   kehilangan   cermin pagi.


2006